‹ Semua renungan

Minggu, 16 Juni 2030

Bukan Rumus, Relasi

Setiap kali orang mencoba menjelaskan Tritunggal, biasanya mereka tersandung. Tiga tetapi satu. Satu tetapi tiga. Otak kita menuntut penjelasan seperti soal hitungan, dan Tritunggal menolak dimasukkan ke dalam rumus.

Barangkali memang salah kalau kita mendekatinya sebagai teka-teki matematika. Tritunggal bukan soal angka, melainkan soal relasi. Allah bukan pribadi yang menyendiri, lalu suatu hari memutuskan mencipta karena bosan. Sejak kekal Allah adalah kasih yang mengalir, Bapa mengasihi Anak, Anak mengasihi Bapa, dan kasih itu sendiri adalah Roh.

Bacaan pertama hari ini memakai gambar yang berani. Lewat Nabi Hosea, Tuhan berkata bahwa akan tiba saatnya umat memanggil-Nya bukan lagi 'tuanku', melainkan 'suamiku'. Allah tidak ingin diperlakukan sebagai majikan yang jauh. Ia rindu keintiman seorang kekasih.

Inilah kejutan iman kita. Allah yang mahabesar ternyata pada hakikat-Nya adalah hubungan, bukan kesendirian. Dan karena Ia sendiri adalah persekutuan kasih, maka manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya juga hanya menemukan diri di dalam relasi. Kita tidak diciptakan untuk sendiri.

Paulus menegaskannya dengan cara lain. Ia berkata jemaat adalah surat Kristus, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh Allah yang hidup, bukan pada loh batu, melainkan pada loh hati. Allah tidak menulis diri-Nya pada batu mati, melainkan pada hati manusia yang hidup. Iman bukan aturan yang dipahat, melainkan relasi yang tumbuh.

Dalam Injil, Yesus berbicara tentang anggur baru yang menuntut kantong baru. Relasi dengan Allah tidak bisa dipaksakan ke dalam kebiasaan lama yang kaku. Ia terlalu hidup, terlalu bergerak, untuk kantong yang sudah mengeras.

Mungkin inilah tantangan hari raya ini. Bukan supaya kita bisa menjelaskan Tritunggal dengan tepat, sebab kita tidak akan pernah bisa. Melainkan supaya kita masuk ke dalamnya. Membiarkan diri ditarik ke dalam lingkaran kasih Bapa, Putra, dan Roh, seperti tetesan air yang jatuh ke dalam arus sungai.

Kalau Allah pada diri-Nya adalah relasi, maka menjauh dari sesama sebenarnya menjauh dari cara Allah ada. Setiap kali kita memilih mengasihi ketimbang menutup diri, kita sedang menyerupai Dia yang kita sembah hari ini.

Hari ini, apakah kita memperlakukan Allah sebagai rumus yang harus dimengerti, atau kekasih yang ingin didekati?

Allah Tritunggal, Engkau bukan kesendirian melainkan persekutuan kasih. Tariklah kami masuk ke dalam relasi-Mu, dan ajarilah kami bahwa hidup sejati selalu tentang mengasihi. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →