‹ Semua renungan

Senin, 17 Juni 2030

Kebun yang Tak Dijual

Ahab seorang raja. Ia punya istana, kuasa, dan hampir segalanya. Tetapi ia menginginkan satu hal kecil yang bukan miliknya: kebun anggur Nabot, tetangganya, yang letaknya dekat istana. Ia menawar dengan pantas, mau membeli atau menukar.

Nabot menolak. Bukan karena harga kurang, melainkan karena kebun itu warisan nenek moyangnya. Baginya tanah itu bukan sekadar barang dagangan. Ia menyimpan nama leluhur, kenangan, dan janji Tuhan atas tanah pusaka.

Ahab pulang dengan wajah masam, berbaring, menolak makan. Seorang raja merajuk seperti anak kecil karena satu keinginan tak terpenuhi. Lalu Izebel, istrinya, menyelesaikan dengan cara paling keji: memfitnah Nabot, menghadirkan saksi palsu, lalu membunuhnya. Kebun itu pun jatuh ke tangan raja.

Betapa ngerinya keinginan yang tak dijaga. Berawal dari 'aku mau', berubah jadi 'aku harus punya', dan berakhir dengan nyawa orang lain sebagai tumbal. Ketamakan jarang datang sebagai raksasa. Ia masuk sebagai keinginan kecil yang tampak wajar, lalu membesar diam-diam.

Dalam Injil, Yesus mengajarkan arah yang berlawanan. Jangan melawan kejahatan dengan kejahatan. Kepada yang mengambil bajumu, berikan juga jubahmu. Bukan karena kita lemah, melainkan karena kita menolak masuk ke dalam lingkaran keserakahan itu.

Ahab menggenggam, dan tangannya berlumur darah. Injil mengajak kita membuka tangan, dan tetap bersih.

Hari ini, keinginan kecil mana yang diam-diam mulai tumbuh menjadi 'aku harus punya', apa pun harganya bagi orang lain?

Tuhan, jagalah hatiku dari keinginan yang tak berhenti. Ajarilah aku membuka tangan, bukan menggenggam sampai melukai sesama. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →