Rabu, 12 Juni 2030
Berapa Lama Timpang?
Kemarin kita meninggalkan Elia di rumah janda Sarfat, tepungnya tak habis. Hari ini ia turun ke panggung besar. Di gunung Karmel, di depan seluruh rakyat dan empat ratus lima puluh nabi Baal, ia melempar satu pertanyaan tajam: 'Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati?'
Timpang. Berjalan pincang karena satu kaki di sini, satu kaki di sana. Rakyat Israel tidak menolak Tuhan secara terang-terangan. Mereka hanya tidak mau memilih. Menyembah Tuhan, sambil berjaga-jaga menyembah Baal juga. Untuk amannya.
Elia menuntut kejelasan. Kalau Tuhan itu Allah, ikutilah Dia. Kalau Baal, ikutilah dia. Berhenti pincang.
Lalu terjadilah adu itu. Para nabi Baal berteriak seharian, menoreh tubuh, menari-nari. Sunyi. Tidak ada jawaban. Elia menyiram korbannya dengan air sampai basah kuyup, lalu berdoa singkat saja. Dan api turun, menyambar habis segalanya.
Kita mudah menghakimi rakyat Israel yang plin-plan itu. Tetapi bukankah kita juga sering timpang? Percaya pada Tuhan, sekaligus percaya pada ramalan, jimat, dan bisikan rasa takut. Datang ke gereja, tetapi hati menaruh pengharapan pada hal-hal lain untuk berjaga-jaga.
Dalam Injil, Yesus berkata Ia datang bukan meniadakan hukum, melainkan menggenapinya. Iman yang genap adalah iman yang tak lagi bercabang. Satu hati, satu arah.
Hari ini, di sudut mana hati kita masih berjalan timpang, satu kaki pada Tuhan, satu kaki pada yang lain?
Tuhan, sembuhkan hatiku yang sering bercabang. Kumpulkan seluruh diriku pada-Mu, supaya aku berjalan tegak, tidak lagi timpang. Amin.