Selasa, 11 Juni 2030
Segenggam Tepung
Kemarin burung gagak memberi makan Elia. Hari ini sumber itu berpindah. Sungai Kerit mengering, dan Tuhan menyuruh Elia pergi ke Sarfat, kepada seorang janda. Anehnya, janda ini justru sedang di ujung kemiskinannya.
Ketika Elia meminta roti, jawaban perempuan itu memilukan. Ia hanya punya segenggam tepung dan sedikit minyak. 'Aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu,' katanya, 'lalu kami makan, dan setelah itu kami mati.' Ini bekal terakhir sebelum ia dan anaknya menyerah pada kelaparan.
Kepada perempuan sekarat itulah Elia justru berkata, 'Buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti.' Tetapi ia menambahkan janji: tepung dan minyakmu tidak akan habis.
Dan perempuan itu percaya. Ia memberi dari kekurangannya, bukan dari kelebihannya. Hasilnya, tepung dalam tempayan itu tidak pernah habis sampai musim kering berakhir.
Hari ini kita mengenang Barnabas, yang namanya berarti anak penghiburan. Ia gampang memberi, menjual ladangnya untuk jemaat, membela Paulus saat orang lain masih curiga. Tangannya mudah terbuka, seperti janda Sarfat.
Yesus berkata, kita adalah garam dunia. Garam berguna justru ketika larut, ketika habis demi rasa makanan. Garam yang menyimpan diri, yang takut berkurang, akhirnya menjadi tawar.
Sering kita berpikir baru bisa memberi kalau sudah berlebih. Janda Sarfat membalik urutan itu. Ia memberi dulu, dan kelimpahan menyusul.
Hari ini, apa segenggam tepung yang kita genggam erat, karena takut kalau dibagi kita akan kekurangan?
Tuhan, seperti janda Sarfat, ajarilah aku memberi bahkan dari kekuranganku. Yakinkan aku bahwa tempayan yang kubagikan tidak akan Kaubiarkan kosong. Amin.