Rabu, 5 Juni 2030
Lebih Berbahagia
Kemarin Paulus baru saja mengucapkan salam perpisahan. Hari ini kita mendengar lanjutannya, dan ujungnya membuat hati sesak. Setelah semua nasihat, ia berlutut, berdoa bersama para penatua, lalu semua menangis dan memeluknya. Mereka tahu tak akan berjumpa lagi.
Sebelum berpisah, Paulus meninggalkan satu kalimat Tuhan Yesus yang tak tercatat di keempat Injil: 'Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.'
Kita biasa berpikir sebaliknya. Yang berbahagia itu yang menerima. Yang menerima gaji, hadiah, pujian. Memberi terasa seperti berkurang. Tetapi Paulus bersaksi dengan hidupnya sendiri. Ia bekerja dengan tangannya membuat tenda, supaya tidak membebani siapa pun. Perak dan emas tak pernah ia ingini.
Orang tua yang bekerja seharian untuk anak-anaknya diam-diam tahu kebenaran ini. Lelah, tetapi ada damai yang aneh. Memberi tanpa menghitung, dalam bahasa nenek moyang kita disebut sepi ing pamrih, sunyi dari pamrih. Tangan yang memberi ternyata pulang membawa sesuatu yang tak bisa dibeli.
Tetapi kita jujur saja. Memberi sambil menunggu balasan itu lebih ringan daripada memberi tanpa syarat. Yang kedua menuntut kita percaya, bahwa kepenuhan hidup tidak datang dari yang masuk ke tangan, melainkan dari yang keluar.
Hari ini, adakah pemberian yang kita tahan karena diam-diam menunggu imbalan?
Tuhan, Engkau memberi tanpa henti dan tak pernah menagih. Ajarilah aku menemukan bahagia bukan saat menerima, melainkan saat memberi. Amin.