‹ Semua renungan

Kamis, 6 Juni 2030

Pandai Memecah

Paulus berdiri di depan Mahkamah Agama. Ia orang cerdik. Ia tahu ruangan itu terbelah dua, orang Farisi dan orang Saduki. Maka ia melempar satu kalimat tentang kebangkitan orang mati, dan seketika ruangan itu ribut. Yang tadinya sepakat memusuhi Paulus kini sibuk bertengkar sendiri.

Betapa mudah sebuah perkumpulan pecah. Cukup satu kata yang menyentuh titik perbedaan, dan retak lama terbuka lagi.

Dalam Injil hari ini kita mendengar doa Yesus yang berbeda arah. Menjelang wafat-Nya, Ia tidak berdoa agar murid-murid-Nya menang, kaya, atau aman. Ia berdoa satu hal yang terus diulang: 'supaya mereka semua menjadi satu.' Satu, seperti Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.

Dua adegan ini seperti dua sisi mata uang. Di ruang Mahkamah, manusia pandai memecah. Di ruang doa, Yesus rindu menyatukan.

Persatuan tidak berarti semua sama. Bapa dan Anak bukan pribadi yang sama. Tetapi mereka satu dalam kasih. Persatuan sejati justru menampung perbedaan tanpa membiarkannya menjadi tembok.

Kita sering bangga bisa mematahkan argumen orang lain, memenangkan perdebatan di meja makan atau di kolom komentar. Tetapi menang belum tentu menyatukan. Kadang kita menang, dan relasi kalah.

Hari ini, mana yang lebih kita cari: benar sendiri, atau satu bersama?

Tuhan, doa-Mu supaya kami menjadi satu belum juga selesai. Jadikan mulutku alat pemersatu, bukan pemecah. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →