Jumat, 7 Juni 2030
Bukan Hamba, Sahabat
Ada jarak yang jelas antara majikan dan pekerja. Pekerja menerima perintah, mengerjakannya, lalu pulang. Ia tidak perlu tahu isi kepala majikannya. Yang penting tugas beres dan upah cair.
Yesus menolak jarak itu. 'Aku tidak menyebut kamu lagi hamba,' kata-Nya, 'sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya. Tetapi Aku menyebut kamu sahabat.' Alasannya menyentuh: karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang Kudengar dari Bapa-Ku.
Di sinilah bedanya. Kepada hamba orang memberi perintah. Kepada sahabat orang membuka hati. Yesus tidak menyimpan rahasia dari kita. Ia membagi seluruh isi hati Bapa.
Dan kita tahu, persahabatan sejati diuji pada harga. 'Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.' Yesus tidak sekadar mengucapkannya. Beberapa jam setelah kalimat itu, Ia menepatinya di kayu salib.
Yang mengejutkan ada di ujung: 'Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.' Persahabatan ini tidak kita mulai. Kita hanya menyambut tangan yang sudah lebih dulu terulur.
Kita sering memperlakukan iman seperti hubungan majikan dan hamba. Menjalankan aturan supaya aman, berdoa supaya tidak kena masalah. Padahal kita ditawari sesuatu yang jauh lebih hangat, yaitu dianggap sahabat oleh Allah sendiri.
Hari ini, apakah kita memperlakukan Tuhan sebagai atasan yang harus dipuaskan, atau sahabat yang ingin kita kenali?
Tuhan, Engkau menyebutku sahabat padahal aku sering bersikap seperti hamba yang takut. Ajarilah aku mengenal isi hati-Mu, bukan sekadar menjalankan perintah-Mu. Amin.