Selasa, 4 Juni 2030
Garis Akhir
Kemarin kita mendengar Paulus mengajar dengan berani di Efesus selama berbulan-bulan. Hari ini kita mendengar ia berpamitan. Ia memanggil para penatua, lalu berkata sesuatu yang berat: kamu tidak akan melihat mukaku lagi.
Ada nada perpisahan yang jujur di situ. Paulus tidak berpura-pura kuat. Ia bicara tentang air mata, tentang ancaman, tentang penjara yang menunggunya di depan. Tetapi di tengah semua itu ada satu kalimat yang seperti tiang: 'asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan Tuhan Yesus kepadaku.'
Garis akhir. Paulus memakai bahasa pelari. Ia tidak berpikir soal seberapa cepat, seberapa terkenal, seberapa banyak jemaat yang ia dirikan. Ia hanya ingin sampai, dan menyelesaikan tugas.
Kita hidup di zaman yang gemar mengukur segala hal dengan angka. Berapa pengikut, berapa capaian, berapa penghasilan. Paulus mengukur hidupnya dengan satu pertanyaan lain: apakah tugas yang dipercayakan sudah kuselesaikan?
Seorang pelari yang bijak tahu, yang penting bukan menang atas orang lain, melainkan tidak berhenti sebelum garis. Banyak orang berbakat berhenti di kilometer keenam, bukan karena tak sanggup, melainkan karena lupa untuk apa mereka berlari.
Hari ini, tugas apa yang Tuhan titipkan pada kita, yang diam-diam mulai kita tinggalkan setengah jalan?
Tuhan, jangan biarkan aku berhenti di tengah jalan. Bantulah aku menyelesaikan yang Kaupercayakan, sampai garis akhir. Amin.