Senin, 20 Mei 2030
Kami Ini Manusia Biasa
Panggung punya daya sihirnya sendiri. Sekali orang bertepuk tangan untuk kita, turun dari panggung menjadi perkara yang sulit.
Di Listra, Paulus menyembuhkan orang yang lumpuh sejak lahir. Orang banyak berteriak dalam bahasa daerah mereka: dewa-dewa telah turun! Barnabas disebut Zeus, Paulus disebut Hermes. Imam kuil Zeus bergegas membawa lembu-lembu jantan dan karangan bunga, siap mempersembahkan kurban kepada dua manusia itu.
Reaksi keduanya luar biasa: mereka mengoyakkan pakaian dan terjun ke tengah kerumunan sambil berseru, 'Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu.' Mereka menolak kurban yang paling memabukkan di dunia: pemujaan.
Inilah godaan halus setiap pelayanan. Pujian pelan-pelan berpindah alamat, dari Tuhan kepada pelayan-Nya. Khotbah yang bagus, suara yang merdu, sumbangan yang besar, semuanya bisa menjadi panggung. Menerima ucapan terima kasih itu wajar dan sehat. Menikmati disembah, itu awal bencana.
Dalam Injil, Yesus menjanjikan Roh Kudus yang 'akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu'. Salah satu hal yang paling perlu terus diingatkan kepada kita rupanya sederhana: kami ini manusia biasa.
Tuhan, bila tepuk tangan datang, ingatkan aku untuk meneruskannya kepada-Mu. Amin.