Minggu, 19 Mei 2030
Berangkat dengan Tangan Ringan
Orang yang hendak bepergian jauh selalu tergoda membawa semuanya. Koper penuh, tas cadangan, bungkusan titipan. Padahal para pejalan berpengalaman tahu: makin jauh tujuannya, makin ringan seharusnya bawaannya.
Injil hari ini memuat perintah berangkat paling luas yang pernah diucapkan: 'Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.' Yang menerima perintah itu sebelas orang. Tanpa kendaraan, tanpa dana, tanpa jaminan keamanan. Modal mereka hanya satu janji, dan janji itu dicatat di ayat terakhir: mereka pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja serta meneguhkan firman itu.
Bagaimana bisa berangkat sejauh itu dengan bekal setipis itu? Petrus, dalam bacaan pertama, menuliskan resep perjalanan ringan kepada jemaat yang sedang menderita: 'Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.' Kata serahkanlah di situ bukan setengah menitip sambil tetap menggenggam. Artinya melemparkan seluruh beban, seperti orang meletakkan pikulan di ujung perjalanan.
Tetapi Petrus bukan orang naif. Kalimat berikutnya justru keras: 'Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.' Iman yang ringan bukan iman yang lengah. Bebannya ringan, matanya awas. Orang yang sudah menyerahkan kekuatirannya tidak menjadi ceroboh; ia justru bebas untuk waspada terhadap hal yang benar-benar penting.
Menarik bahwa perintah ke seluruh dunia itu dilaksanakan bukan oleh orang-orang hebat. Markus dengan jujur mencatat bahwa sesaat sebelumnya mereka masih ditegur karena tidak percaya. Namun mereka tetap disuruh pergi, dan mereka pergi. Peneguhan tidak diberikan di ruang tunggu; peneguhan menyusul di jalan. Urutan itu penting: kita melangkah dulu, tanda-tanda mengikuti kemudian.
Dunia kita mungkin tidak seluas peta. Seluruh dunia bagi kita barangkali sebatas rumah, tempat kerja, dan beberapa gang di lingkungan. Ke situlah kita diutus dengan kabar yang sama. Dan kalau selama ini kita belum juga berangkat, alasannya biasanya bukan larangan dari mana-mana, melainkan kekuatiran yang belum pernah sungguh diserahkan: takut ditolak, takut salah bicara, takut kehabisan tenaga.
Pekan ini, coba satu latihan kecil setiap pagi: sebutkan satu kekuatiran, serahkan kepada Dia yang memelihara, lalu berangkatlah mengerjakan bagian kita.
Tuhan, kuletakkan koper kekuatiranku di kaki-Mu. Berangkatkanlah aku dengan tangan ringan dan mata yang berjaga. Amin.