Rabu, 17 April 2030
Bukan Aku, ya Tuhan?
Ada satu kalimat yang diucapkan hampir semua orang di meja itu, dan justru karena itu ia mengganggu. Ketika Yesus berkata seorang di antara kamu akan mengkhianati Aku, para murid tidak saling menunjuk. Mereka justru bertanya, satu per satu, 'Bukan aku, ya Tuhan?'
Bukan aku. Tetapi mereka bertanya. Dan pertanyaan itu jujur. Sebab di lubuk hati, setiap murid tahu ada kemungkinan gelap dalam dirinya. Tidak ada yang berani berkata, sudah pasti bukan aku, aku terlalu setia untuk itu. Mereka semua memeriksa hati sendiri lebih dulu.
Hanya ada satu perbedaan kecil yang tajam. Ketika Yudas ikut bertanya, ia tidak berkata Tuhan. Ia berkata, 'Bukan aku, ya Rabi?' Kata Rabi berarti Guru. Kata yang sopan, tetapi berjarak. Sebutan seorang murid pada pengajarnya, bukan sebutan seorang beriman pada Tuhannya. Sepatah kata itu membuka jurang yang sudah lama menganga di hatinya. Sebelumnya Yudas sudah pergi bertanya kepada imam-imam kepala, 'Apa yang hendak kamu berikan kepadaku?' Ia meletakkan Yesus di atas timbangan dan menawar harganya. Tiga puluh uang perak, harga seorang budak. Begitulah dosa bekerja. Ia mulai dengan memberi harga pada hal-hal yang mestinya tak ternilai.
Hari ini, hari yang oleh tradisi disebut hari tobat, Injil tidak mengajak kita menghakimi Yudas dari kejauhan. Ia mengajak kita duduk di meja itu dan ikut bertanya dengan jujur, bukan aku, ya Tuhan? Sebab pengkhianatan jarang datang tiba-tiba. Ia menyelinap lewat kompromi kecil, lewat harga-harga diam yang kita tempelkan pada iman kita, ketika kesetiaan mulai kita tukar dengan keuntungan.
Bacaan pertama menghadirkan wajah yang berlawanan. Sang Hamba memberikan punggungnya kepada yang memukul, tidak menyembunyikan muka dari yang meludahi, sebab ia tahu Tuhan menolongnya. Di satu sisi meja ada yang menjual demi perak. Di sisi lain ada yang menyerahkan diri tanpa harga. Keduanya duduk berdekatan, berbagi roti yang sama, di bawah atap yang sama. Betapa tipis kadang garis yang memisahkan pengkhianat dari saksi setia. Yang membedakan bukan kepintaran, bukan pula lamanya mengikut, melainkan ke mana hati diam-diam berpaling ketika tidak ada yang melihat.
Adakah bagian dari kesetiaan kita yang diam-diam sudah kita beri label harga, siap ditukar bila tawarannya cukup menggiurkan?
Tuhan, periksalah hatiku hari ini. Jangan biarkan aku menyebut-Mu Guru dengan bibir, sementara hatiku sudah menawar-Mu. Amin.