Selasa, 16 April 2030
Jarak Antara Niat dan Perbuatan
Tidak ada pengkhianatan yang lebih menyakitkan daripada yang datang dari meja makan sendiri. Orang asing bisa melukai kita, tetapi lukanya tidak sedalam luka dari orang yang pernah berbagi nasi dengan kita. Malam itu, di meja perjamuan, Yesus sangat terharu dan berkata, seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.
Perhatikan bahwa Yesus tidak menunjuk-nunjuk dengan marah. Ia terharu. Ada kesedihan, bukan kegeraman. Ia bahkan memberikan roti yang dicelupkan kepada Yudas, sebuah tanda kehormatan bagi tamu, isyarat kasih yang terakhir. Sampai saat terakhir, pintu untuk berbalik masih dibuka. Tetapi Yudas bangkit dan pergi. Dan Yohanes menutup adegan itu dengan tiga kata yang berat, 'Pada waktu itu hari sudah malam.'
Lalu ada Petrus. Ia begitu yakin pada dirinya. 'Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu.' Kalimat yang tulus, penuh semangat, dan sungguh-sungguh ia maksudkan. Tetapi Yesus, yang mengenal hati Petrus lebih dalam daripada Petrus mengenal dirinya sendiri, menjawab dengan lembut, sebelum ayam berkokok engkau telah menyangkal Aku tiga kali.
Di sini ada dua wajah kelemahan manusia. Yudas, yang menyerahkan karena hitungan. Dan Petrus, yang menyangkal karena takut, padahal niatnya baik. Jarak antara niat dan perbuatan kadang begitu jauh, dan kita sering menemukan itu justru ketika ujian datang. Kita mudah merasa seperti Petrus di saat tenang. Aku tidak mungkin meninggalkan Tuhan. Tetapi Pekan Suci mengajak kita lebih rendah hati. Bukan menyombongkan kesetiaan kita, melainkan memohon supaya ditopang justru di titik kita paling rapuh.
Bacaan pertama memberi harapan di tengah kerapuhan ini. Sang Hamba mengaku, 'Aku telah bersusah-susah dengan percuma,' seolah semuanya sia-sia. Namun ia menambahkan, hakku terjamin pada Tuhan. Bahkan ketika ia merasa gagal, Tuhan tetap memegangnya. Itulah kabar baik bagi Petrus, dan bagi kita. Penyangkalan bukan akhir cerita. Sesudah ayam berkokok, masih ada pagi tempat Petrus dipulihkan. Yesus sudah tahu akan disangkal, namun Ia tetap membasuh kaki Petrus dan tetap memberinya roti. Kasih-Nya melampaui pengetahuan-Nya tentang kegagalan kita. Ia menerima kita bukan karena tidak tahu kita akan jatuh, melainkan justru karena Ia tahu, dan tetap memilih mengasihi.
Ada baiknya kita mencontoh sikap para murid di meja itu. Alih-alih menunjuk saudara di sebelah, mereka memeriksa diri sendiri lebih dulu. Pekan Suci memang bukan waktu untuk menghakimi Yudas atau Petrus dari kejauhan, melainkan untuk mengenali serpihan keduanya dalam hati kita sendiri, lalu membawanya kepada Tuhan yang tetap terharu, bukan murka.
Di titik mana kita paling perlu berkata jujur, Tuhan, aku lebih rapuh daripada yang kuakui?
Tuhan, jangan biarkan aku menyombongkan kesetiaanku sendiri. Peganglah aku justru di tempat aku paling mudah jatuh. Amin.