‹ Semua renungan

Senin, 15 April 2030

Sedikit Boros

Ada aroma yang bisa mengubah suasana seluruh rumah dalam sekejap. Bau masakan ibu dari dapur, bau kopi di pagi hari, bau minyak wangi yang tumpah. Yohanes mencatat detail kecil yang mengharukan tentang perjamuan di Betania, 'bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.' Seluruh rumah. Satu perbuatan kasih dari satu perempuan mengubah udara yang dihirup semua orang.

Maria memecahkan setengah kati minyak narwastu murni, minyak yang harganya setara upah setahun. Ia menuangkannya ke kaki Yesus, lalu menyekanya dengan rambutnya sendiri. Sebuah tindakan yang, kalau kita jujur, terlihat berlebihan. Tidak efisien. Boros.

Dan memang, ada yang segera menghitung. Yudas berkata, mengapa minyak ini tidak dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin? Kedengarannya saleh. Tetapi Yohanes membuka kartunya, Yudas berkata begitu bukan karena peduli pada orang miskin, melainkan karena ia seorang pencuri. Betapa sering kepedulian palsu dipakai untuk menutupi hati yang sebenarnya menghitung untuk diri sendiri.

Di sinilah dua cara memandang berhadapan. Yudas melihat harga, Maria melihat pribadi. Yudas menghitung dinar, Maria menghitung kasih, dan pada kasih sejati memang tidak ada kalkulator. Cinta yang sejati selalu tampak sedikit boros di mata yang hanya bisa menghitung untung rugi. Yesus membela Maria, 'Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.' Tanpa Maria sadari sepenuhnya, ia sedang mengurapi Yesus untuk kematian-Nya.

Bacaan pertama melukiskan Hamba Tuhan yang lembut, yang tidak akan mematahkan buluh yang sudah terkulai, tidak memadamkan sumbu yang pudar. Hamba itulah yang kakinya diminyaki Maria. Kelembutan berjumpa kelembutan. Dan bukan kebetulan bahwa yang paling mengerti nilai perbuatan Maria justru Dia yang tak lama lagi akan menyerahkan seluruh diri-Nya. Orang yang tahu betapa mahalnya memberi tidak akan pernah menghitung pemberian kasih sebagai pemborosan.

Aroma dari perbuatan Maria masih tercium sampai hari ini, dua ribu tahun kemudian. Kebaikan yang tulus memang begitu. Ia mengharumi ruang jauh lebih lama daripada yang kita kira. Pekan Suci ini mengundang kita bertanya, seperti apa kasih kita kepada Tuhan? Kasih yang menghitung, selalu bertanya seminimal apa yang bisa aku beri? Atau kasih yang berani sedikit boros, yang menuangkan seluruhnya tanpa menahan sisa?

Adakah kasih yang selama ini kita tahan karena menghitungnya terlalu mahal?

Tuhan, lepaskan aku dari kebiasaan menghitung untung rugi dalam mengasihi-Mu. Ajar aku menuangkan yang terbaik tanpa menyisihkan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →