Minggu, 14 April 2030
Raja di Atas Keledai
Hari ini daun-daun palma diangkat tinggi. Ada arak-arakan, ada sorak, ada jubah dan ranting yang dihamparkan di jalan. Umat menyambut seorang Raja yang masuk ke Yerusalem. Tetapi ada satu hal yang mudah kita lewatkan dalam keramaian ini. Raja itu menunggang seekor keledai.
Bayangkan betapa janggalnya. Seorang raja yang menang biasanya masuk kota dengan kuda perang, diiringi pasukan, memamerkan kekuatan. Yesus memilih keledai, binatang beban yang sabar dan rendah. Sudah dari cara masuk-Nya, Ia mengumumkan jenis kerajaan yang berbeda. Bukan kerajaan yang menindas, melainkan yang menanggung.
Dan sorak-sorai itu, betapa cepat berubah. Hari ini mulut yang sama berseru Hosana, memuji Dia yang datang dalam nama Tuhan. Hanya beberapa hari kemudian, banyak dari mulut itu akan berteriak, Salibkan Dia. Ranting palma yang hijau hari ini akan layu sebelum pekan berakhir. Manusia memang mudah berubah setia. Kita bersorak ketika Tuhan memenuhi harapan kita, dan berbalik ketika Ia menempuh jalan yang tidak kita mengerti.
Barangkali di sinilah letak ujian Pekan Suci bagi kita. Mudah menjadi bagian dari kerumunan yang bersorak selama semuanya meriah. Tetapi apakah kita masih bertahan di dekat-Nya ketika arak-arakan berubah menjadi jalan salib? Ketika tidak ada lagi daun palma, hanya duri?
Yesus tahu betul isi hati orang banyak. Ia tahu sorak hari ini akan menjadi hujatan nanti. Namun Ia tetap masuk. Ia tidak menunggu kesetiaan kita sempurna dulu baru datang. Ia masuk ke kota yang akan menyalibkan-Nya, dengan mata terbuka, di atas seekor keledai.
Pekan ini kita diundang berjalan bersama-Nya, bukan hanya di hari yang meriah. Ikut ke ruang perjamuan, ikut ke taman yang gelap, ikut berdiri di kaki salib. Sebab hanya mereka yang berani menemani-Nya sampai Jumat yang akan sungguh mengerti sukacita Minggu Paskah. Ranting yang kita genggam hari ini sederhana saja. Tetapi ia sebuah janji kecil, bahwa kita mau berjalan sampai akhir, tidak hanya sampai tikungan yang menyenangkan. Sebab kesetiaan yang hanya bertahan di jalan yang mulus belum sungguh teruji. Yang membedakan sahabat sejati dari penggembira sesaat justru terlihat ketika sorak sudah reda dan yang tersisa hanya jalan menanjak.
Ketika jalan Tuhan nanti tidak seperti yang kita harapkan pekan ini, akankah kita tetap tinggal di dekat-Nya?
Tuhan yang masuk kota di atas keledai, ajarilah aku menemani-Mu bukan hanya dalam sorak, melainkan juga dalam diam dan derita pekan ini. Jagai hatiku agar tidak berbalik. Amin.