Kamis, 18 April 2030
Sebuah Tubuh Disediakan
Malam ini adalah malam meja. Malam roti dipecah dan cawan diedarkan. Malam ketika Tuhan, pada perjamuan terakhir sebelum sengsara-Nya, mengambil roti dan berkata, inilah tubuh-Ku. Kita menyebutnya Kamis Putih, awal dari Trihari Suci, tiga hari paling kudus dalam tahun kita.
Surat Ibrani meletakkan satu kalimat yang mengejutkan di mulut Kristus ketika Ia masuk ke dunia. 'Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.' Sebuah tubuh disediakan. Bukan lagi darah lembu atau domba di atas mezbah, melainkan tubuh yang nyata, yang bernapas, yang malam ini akan diserahkan.
Dan tubuh itu memberi diri dalam wujud yang paling sederhana yang bisa kita bayangkan, yaitu roti. Sesuatu yang ada di setiap meja, sesuatu yang harus dipecah dulu sebelum dibagi. Tuhan tidak memilih tanda yang megah. Ia memilih makanan sehari-hari, supaya kita tahu Ia ingin masuk sedalam-dalamnya ke dalam hidup kita, sedekat suapan di mulut.
Ada satu kata yang menghubungkan malam ini dengan awal segalanya. Ketika malaikat datang kepada Maria, gadis itu menjawab, 'jadilah padaku menurut perkataanmu.' Dan Kristus, dalam surat Ibrani, berkata, 'Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.' Dua kali yang sama. Ya sang ibu yang menyediakan rahim, dan ya sang Putra yang menyerahkan tubuh. Dari kesediaan Maria, tubuh itu dibentuk. Pada malam ini, tubuh itu diserahkan.
Malam ini, ketika kita menerima roti itu, kita tidak hanya menerima sepotong tanda. Kita menerima seluruh ya Kristus, seluruh hidup yang diserahkan tanpa sisa. Dan Ia menyerahkannya bukan kepada murid-murid yang sempurna. Ia tahu, di meja yang sama, ada yang akan mengkhianati dan ada yang akan menyangkal. Ia tetap memecah roti bagi mereka semua.
Barangkali itulah keajaiban yang paling dalam. Bahwa kasih-Nya tidak menunggu kita layak dulu. Ia menyerahkan tubuh-Nya bagi kita justru sebagaimana kita, dengan segala kerapuhan yang kita bawa ke meja-Nya. Dan sesudah memberi roti, Ia bangkit, mengambil baskom, dan membasuh kaki murid-murid-Nya. Tubuh yang diberikan sebagai makanan itu juga tubuh yang menunduk melayani. Sebab menyerahkan diri dan melayani sesama pada dasarnya satu gerakan yang sama, dan itulah yang Ia wariskan pada malam ini.
Ketika roti kudus diletakkan di tangan kita, beranikah kita menjawab dengan ya kita sendiri yang kecil?
Tuhan, pada malam Engkau menyerahkan tubuh-Mu bagi kami, ajarilah kami menerima-Mu dengan hati yang juga berani berkata jadilah. Amin.