Jumat, 19 April 2030
Keluarga di Bawah Salib
Salib adalah tempat segala sesuatu tampak berakhir. Tetapi justru di sana, di puncak kehancuran, Yesus melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia membentuk sebuah keluarga baru.
Di bawah salib berdiri dua orang, ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya. Dalam keadaan yang paling menyakitkan yang bisa dialami manusia, ketika napas saja sudah menjadi perjuangan, Yesus tidak sibuk dengan diri-Nya sendiri. Ia memandang ibu-Nya dan berkata, 'Ibu, inilah anakmu.' Lalu kepada murid itu, 'Inilah ibumu.' Dan Injil mencatat, sejak saat itu murid itu menerima Maria di dalam rumahnya.
Perhatikan apa yang sedang terjadi. Di ambang kematian, Yesus tidak meninggalkan wasiat tentang harta, sebab Ia tidak punya apa-apa selain jubah yang sedang diundi para prajurit. Yang Ia wariskan adalah relasi. Ia menyatukan dua orang yang ditinggalkan menjadi ibu dan anak. Dari kayu salib, lahir sebuah rumah tangga baru.
Inilah cara Allah bekerja yang selalu membalikkan hitungan kita. Di tempat kita hanya melihat perpisahan, Ia merajut pertalian. Di tempat kita melihat kehilangan, Ia menaruh keluarga. Salib bukan hanya tempat Yesus menanggung dosa dunia. Ia juga tempat Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada kita, dan kita kepada ibu-Nya.
Ada satu detail kecil yang mudah terlewat dalam kisah sengsara ini. Para prajurit membagi pakaian Yesus menjadi empat, tetapi jubah-Nya tidak mereka koyak, sebab jubah itu ditenun dari atas ke bawah tanpa jahitan. Mereka memilih membuang undi daripada merobeknya. Tangan-tangan kasar itu enggan mengoyak sehelai kain, sementara mereka rela mengoyak seorang manusia. Betapa sering kita pun begitu, hati-hati pada hal-hal kecil, tetapi lalai pada yang paling berharga.
Yang tak berjahit itu menjadi tanda. Sebab dari salib yang tampak mengoyak segalanya, justru lahir kesatuan yang baru. Nubuat Yesaya berbunyi, oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Luka-Nya menyembuhkan luka kita. Kematian-Nya menyatukan yang tercerai. Hari ini, di hari yang paling hening dalam tahun kita, kita berdiri di bawah salib bersama Maria dan murid yang dikasihi itu. Dan Yesus memandang kita juga, lalu berkata, kalian pun keluarga-Ku. Terimalah satu sama lain. Sebab gereja lahir bukan dari kesamaan darah, melainkan dari darah yang tertumpah di kayu itu. Kita menjadi saudara justru karena berdiri di bawah salib yang sama, ditebus oleh kasih yang sama.
Siapa yang hari ini Tuhan percayakan menjadi keluarga bagi kita, untuk kita terima ke dalam rumah kita?
Tuhan yang dari salib membentuk keluarga baru, ajar kami saling menerima sebagai ibu, sebagai anak, sebagai saudara. Amin.