‹ Semua renungan

Sabtu, 20 April 2030

Batu yang Sudah Terguling

Sabtu Suci adalah hari yang paling sunyi dalam tahun Gereja. Altar kosong, tabernakel terbuka, lonceng dibungkam. Dunia seakan menahan napas. Dan pada dini hari itu, tiga perempuan berjalan ke sebuah kubur, membawa rempah-rempah.

Perhatikan apa yang mereka bawa. Rempah untuk meminyaki mayat. Mereka berangkat dengan asumsi yang wajar, bahwa mereka akan bertemu jenazah yang perlu dirawat. Kasih mereka tulus, tetapi arahnya keliru. Mereka mempersiapkan diri untuk merawat kematian, padahal kematian sudah dikalahkan.

Dan sepanjang jalan, mereka cemas oleh satu soal, 'Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita?' Batu itu besar, dan mereka hanya bertiga. Mereka berjalan sambil memikul kekhawatiran yang, ternyata, tidak perlu. Sebab ketika tiba, batu itu sudah terguling. Masalah yang mereka bawa sepanjang jalan sudah selesai sebelum mereka sampai.

Betapa sering kita seperti para perempuan itu. Kita berjalan menuju hari esok sambil memikul batu-batu kekhawatiran. Bagaimana nanti kalau begini, siapa yang akan menolongku kalau begitu. Kita menghabiskan tenaga mengkhawatirkan batu yang, kalau saja kita tahu, sudah digulingkan oleh tangan yang lebih besar dari tangan kita.

Di dalam kubur, mereka bertemu seorang muda berjubah putih yang berkata, jangan takut, Ia telah bangkit, Ia tidak ada di sini. Kalimat itu membalik segalanya. Mereka datang membawa rempah untuk kematian, dan pulang membawa kabar tentang kehidupan.

Malam ini, dalam Vigili Paskah, Gereja membacakan kisah penciptaan. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, dan atas yang gelap Ia berfirman, jadilah terang. Bukan kebetulan kita mendengarnya justru di malam kebangkitan. Sebab kebangkitan adalah penciptaan yang kedua. Allah yang dulu memanggil terang dari kegelapan, kini memanggil hidup dari kubur. Rasul Paulus menautkan hal ini langsung dengan kita. Dalam pembaptisan, kita telah dikuburkan bersama Kristus, supaya kita juga hidup dalam hidup yang baru.

Maka batu apa pun yang kita pikul menuju Paskah tahun ini, ada baiknya kita menengok lagi. Barangkali batu itu sudah terguling, dan kita hanya belum tiba untuk melihatnya. Rempah yang kita siapkan untuk merawat hal-hal yang kita kira sudah mati pun mungkin tidak akan terpakai, sebab Tuhan gemar menghidupkan yang sudah kita ratapi habis. Itulah kejutan malam ini, bahwa yang kita datangi dengan duka justru menyambut kita dengan hidup.

Kekhawatiran mana yang selama ini kita gotong, padahal Tuhan mungkin sudah menyelesaikannya di depan?

Tuhan yang memanggil terang dari gelap dan hidup dari kubur, gulingkan batu yang kupikul, dan bangkitkan aku ke dalam hidup yang baru. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →