Minggu, 21 April 2030
Percaya Dulu, Mengerti Kemudian
Ada hal-hal yang kita percayai jauh sebelum kita bisa menjelaskannya. Seorang anak percaya ibunya mengasihinya bertahun-tahun sebelum ia mampu menguraikan apa itu kasih. Kita mengenali wajah orang yang kita cintai dalam sekejap, tanpa perlu mengurai satu per satu alasannya. Ada pengetahuan hati yang mendahului pengetahuan kepala.
Injil Paskah pagi ini memperlihatkan hal itu pada murid yang dikasihi Yesus. Ia menjenguk ke dalam kubur yang kosong, memandang sejenak, dan Yohanes mencatat dengan singkat, 'ia melihat dan percaya.' Lalu ditambahkan sesuatu yang jujur, 'sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci.' Ia percaya dulu, mengerti kemudian. Imannya berlari mendahului pemahamannya.
Kita sering mengira harus mengerti dulu baru bisa percaya. Jelaskan semuanya kepadaku, buktikan, baru aku mau beriman. Tetapi murid ini mengajarkan urutan yang lain. Kadang kita percaya lebih dulu, di dalam hati, dan pengertian menyusul pelan-pelan sesudahnya. Iman bukan kesimpulan di ujung perhitungan. Ia sering menjadi titik mula, cahaya kecil yang muncul sebelum seluruh ruangan terang.
Rasul Paulus menarik hal ini ke dalam hidup kita sehari-hari. 'Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas.' Kebangkitan bukan sekadar berita yang kita rayakan sekali setahun. Ia mengubah ke mana arah pencarian kita. Selama ini banyak yang kita cari di bumi, harta, nama, rasa aman. Paskah memutar kompas hati kita ke atas, ke tempat Kristus yang hidup berada.
Dan Paulus menambahkan kalimat yang menghibur, 'hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.' Hidup kita yang sejati tidak selalu kelihatan dari luar. Ia tersembunyi, seperti akar yang bekerja di dalam tanah. Kita tidak selalu bisa mengukur pertumbuhan iman kita dengan mata. Tetapi ia tersimpan aman, di tempat yang paling terlindung, di dalam Allah sendiri.
Dalam bacaan pertama, Petrus meringkas seluruh Injil dalam beberapa kalimat sederhana. Yesus berjalan berkeliling sambil berbuat baik, Ia dibunuh, dan pada hari ketiga Allah membangkitkan Dia. Petrus tidak berfilsafat panjang. Ia hanya bersaksi tentang apa yang ia lihat dan alami. Iman memang lahir dari perjumpaan, bukan dari argumen.
Hari ini adalah hari yang paling besar dalam tahun kita. Kristus sungguh bangkit. Dan kita diundang untuk percaya dulu, membiarkan hati mendahului kepala, dan menjalani sisa hidup untuk perlahan-lahan mengerti apa yang sudah lebih dahulu kita imani.
Ke mana arah pencarian kita selama ini, ke bawah atau ke atas?
Tuhan yang bangkit, izinkan hatiku percaya kepada-Mu bahkan sebelum aku sanggup mengerti segalanya. Arahkan pencarianku pada perkara yang di atas, di mana Engkau hidup. Amin.