Senin, 22 April 2030
Dua Versi Cerita
Sejak awal, kebangkitan sudah punya dua versi cerita. Yang satu diberitakan dengan sukacita oleh para perempuan yang berlari dari kubur. Yang lain disusun dengan uang di ruang tertutup para imam kepala. Injil hari ini memperlihatkan keduanya berjalan berdampingan.
Para penjaga makam datang ke kota, gemetar, melaporkan apa yang benar-benar terjadi. Tetapi kebenaran itu tidak menguntungkan bagi mereka yang berkuasa. Maka diadakanlah rapat, dan diputuskan sesuatu yang sudah tua umurnya, yaitu menutup kebenaran dengan uang. 'Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.'
Perhatikan betapa rapuhnya kebohongan ini. Kalau para penjaga tidur, bagaimana mereka tahu siapa yang mengambil jenazah itu? Saksi yang tidur bukanlah saksi. Tetapi kebohongan tidak perlu masuk akal untuk laku, ia hanya perlu diulang cukup sering. Dan Matius mencatat dengan getir, 'ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang.' Kabar burung yang dibeli dengan uang bisa hidup lebih lama daripada yang kita duga. Zaman kita mengenal betul hal ini. Kabar palsu menyebar cepat, apalagi bila ada yang berkepentingan menyebarkannya. Kebenaran sering harus berjalan lebih lambat, tanpa dana, hanya berbekal kesaksian orang-orang yang berani jujur.
Di seberang cerita yang dibeli itu, berdirilah Petrus. Dalam bacaan pertama ia tidak menyuap siapa pun. Ia hanya berdiri di depan orang banyak dan bersaksi, 'Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.' Ia tidak punya uang untuk membeli mulut orang. Ia hanya punya kebenaran dan keberanian untuk mengatakannya.
Dua warisan itu masih hidup sampai hari ini. Ada cara para imam kepala, menutup yang benar demi kepentingan. Dan ada cara Petrus, mengatakan yang benar meski merugikan diri. Setiap hari kita memilih di antara keduanya, kadang dalam perkara besar, lebih sering dalam perkara kecil. Kebangkitan tidak butuh dibela dengan kebohongan. Ia hanya butuh saksi yang berani jujur. Dan justru kejujuran sederhana para saksi itulah yang bertahan dua ribu tahun, mengalahkan cerita yang dulu dibeli dengan sekantong perak. Uang bisa membeli suara untuk sesaat, tetapi tidak bisa membeli kehidupan yang sudah bangkit. Cepat atau lambat, kebenaran yang dibungkam akan tetap berjalan, meski dengan kaki telanjang, sebab ia berpijak pada sesuatu yang lebih kuat daripada kepentingan.
Dalam perkara kecil hari ini, apakah kita akan menjadi penjaga yang dibungkam, atau Petrus yang bersaksi?
Tuhan yang bangkit, berilah aku keberanian untuk berpihak pada yang benar, meski yang benar itu tidak menguntungkan. Amin.