‹ Semua renungan

Selasa, 23 April 2030

Namamu Disebut

Ada satu suara yang bisa kita kenali di antara ribuan suara, yaitu suara yang menyebut nama kita dengan kasih. Di keramaian pasar, di tengah kebisingan, telinga kita seketika berbalik ketika seseorang yang mengenal kita memanggil nama kita. Sebab nama yang diucapkan dengan sayang berbeda dari nama yang sekadar dibaca.

Maria Magdalena berdiri di dekat kubur, menangis. Ia bahkan sudah melihat Yesus, tetapi tidak mengenali-Nya. Ia menyangka orang itu penunggu taman. Kesedihan kadang mengaburkan pandangan sampai kita tidak mengenali yang paling kita rindukan, meski Ia berdiri tepat di depan kita.

Yesus tidak menjelaskan panjang lebar siapa Diri-Nya. Ia hanya mengucapkan satu kata, 'Maria.' Namanya sendiri. Dan seketika terbukalah mata hatinya. Ia berbalik dan berseru, 'Rabuni,' yang berarti Guru. Yang membuka pengenalan bukanlah penjelasan, melainkan namanya yang dipanggil oleh suara yang ia kenal.

Inilah yang diajarkan pagi Paskah kepada kita. Tuhan yang bangkit tidak mengenal kita sebagai kerumunan tanpa wajah. Ia memanggil satu per satu, dengan nama. Ia tahu namamu, tahu tangisanmu, tahu di taman mana engkau sedang berdiri kebingungan. Iman sering bangkit bukan ketika semua pertanyaan terjawab, melainkan ketika kita mendengar Tuhan menyebut nama kita.

Dalam bacaan pertama, orang banyak yang mendengar khotbah Petrus sangat terharu dan bertanya, apa yang harus kami perbuat? Petrus menjawab, bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Dalam pembaptisan itu, masing-masing dari kita pun dipanggil dengan nama. Air dituangkan bukan atas kerumunan, melainkan atas seseorang, dengan namanya disebut di hadapan Allah.

Maria diberi tugas segera sesudah dikenali, 'Pergilah kepada saudara-saudara-Ku.' Perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit tidak pernah berhenti pada diri sendiri. Ia yang dipanggil namanya, diutus memanggil yang lain. Maria menjadi orang pertama yang berkata, 'Aku telah melihat Tuhan.' Barangkali hari ini pun Tuhan sedang menyebut nama kita, pelan, di tengah kesibukan dan air mata kita. Persoalannya bukan apakah Ia memanggil, melainkan apakah telinga hati kita cukup hening untuk mendengar. Sebab suara-Nya jarang berteriak. Ia lebih sering berbisik, dan bisikan hanya terdengar oleh mereka yang mau berhenti sejenak dari keramaian, seperti Maria yang berhenti menangis di taman itu cukup lama sampai ia mendengar namanya sendiri.

Kapan terakhir kali kita berhenti cukup lama untuk mendengar Tuhan memanggil nama kita?

Tuhan yang bangkit, sebutlah namaku seperti Engkau menyebut nama Maria, dan bukakan mataku untuk mengenali-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →