‹ Semua renungan

Rabu, 24 April 2030

Muka Muram di Jalan Emaus

Dua orang berjalan pulang dengan langkah berat. Wajah mereka muram, kata Lukas. Mereka baru saja kehilangan segalanya, sebab guru yang mereka harapkan sudah mati di kayu salib. Perjalanan ke Emaus adalah perjalanan orang yang pulang dengan harapan yang patah.

Lalu seorang asing bergabung, berjalan bersama mereka. Anehnya, mereka tidak mengenali-Nya. Ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. Yesus tidak langsung membuka diri. Ia justru bertanya, apa yang kalian percakapkan? Ia membiarkan mereka menumpahkan kekecewaan lebih dulu. Kami dahulu mengharapkan, kata mereka, dengan nada seseorang yang harapannya sudah lampau.

Perhatikan cara Yesus menemani. Ia tidak menegur, kalian ini kenapa sedih, Aku kan sudah bangkit. Ia berjalan seiring langkah mereka, mendengarkan, baru kemudian membuka Kitab Suci pelan-pelan, mulai dari Musa sampai para nabi. Ia menyalakan sesuatu di dalam hati mereka sebelum membuka mata mereka. Nanti mereka berkata, 'Bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan?'

Dan puncaknya bukan pada penjelasan yang panjang, melainkan pada satu tindakan yang sangat sederhana. Ketika duduk makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecahkannya, dan memberikannya kepada mereka. 'Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia.' Roti yang dipecah membuka apa yang tidak dibuka oleh seluruh perjalanan tadi. Mereka mengenali Dia dalam gerak yang sama seperti pada perjamuan terakhir.

Kisah Emaus adalah kisah kita sendiri. Betapa sering Tuhan berjalan di samping kita justru ketika kita merasa paling sendirian, dan kita tidak mengenali-Nya. Ia hadir dalam teman seperjalanan yang mau mendengarkan, dalam Kitab Suci yang membuat hati hangat, dalam roti yang dipecah di setiap Ekaristi. Kita sering baru sadar Ia menemani setelah momen itu berlalu.

Bacaan pertama menunjukkan buah dari perjumpaan itu. Petrus berkata kepada orang lumpuh di Gerbang Indah, 'Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai kuberikan kepadamu.' Ia memberikan yang paling berharga, yaitu nama Yesus yang hidup. Kedua murid tadi pun tidak jadi beristirahat malam. Mereka bangkit dan kembali ke Yerusalem malam itu juga, tujuh mil, untuk berbagi kabar. Sukacita perjumpaan memang tidak bisa disimpan diam-diam.

Di jalan mana kita sedang berjalan dengan muka muram hari ini, tanpa sadar bahwa Ia ada di samping kita?

Tuhan yang berjalan ke Emaus, bukalah mataku untuk mengenali-Mu dalam sesama, dalam sabda, dan dalam roti yang Kaupecahkan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →