Kamis, 25 April 2030
Sepotong Ikan Goreng
Dari semua cara membuktikan bahwa Ia sungguh hidup, Yesus memilih yang paling sederhana dan paling manusiawi. Ia meminta makan. 'Adakah padamu makanan di sini?' Lalu mereka memberikan sepotong ikan goreng, dan Ia memakannya di depan mata mereka.
Bayangkan adegan itu. Para murid ketakutan, menyangka mereka melihat hantu. Dan Tuhan yang bangkit, alih-alih menampilkan cahaya yang menyilaukan, justru duduk dan mengunyah sepotong ikan goreng. Bau ikan, tulang-tulangnya, semuanya sangat biasa, sangat sehari-hari. Justru dalam hal yang paling biasa itu, Ia meyakinkan mereka bahwa Ia bukan roh melayang, melainkan sungguh hidup dengan tubuh.
'Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya.' Yesus mengundang mereka menyentuh. Kebangkitan bukan sekadar gagasan indah tentang jiwa yang tetap hidup. Ia menyangkut tubuh, daging, tulang, bekas paku di tangan. Iman Kristen tidak melarikan diri dari dunia benda. Ia justru percaya bahwa tubuh pun ditebus dan dibangkitkan.
Ada penghiburan besar di sini bagi kita yang hidup dalam tubuh yang lelah, yang sakit, yang menua. Tubuh bukanlah sesuatu yang harus dibuang agar jiwa bebas. Tubuh adalah bagian dari diri kita yang juga dijanjikan bangkit. Yesus makan ikan goreng untuk mengatakan, apa yang jasmani pun berharga di mata Allah. Maka merawat tubuh, beristirahat cukup, makan bersama orang-orang terkasih, semuanya bukan hal yang sepele dalam iman kita. Itu bagian dari menghormati ciptaan yang akan dibangkitkan. Iman yang sehat tidak menghina tubuh, melainkan menjaganya sebagai anugerah yang dititipkan.
Perhatikan juga betapa dekat Tuhan menemui kita. Bukan di puncak gunung yang megah, melainkan di ruang makan, di seputar sepotong ikan. Sampai hari ini pun Ia menemui kita bukan hanya dalam kekhusyukan doa yang tinggi, melainkan dalam hal-hal biasa, dalam makan bersama, dalam pekerjaan tangan, dalam kesederhanaan hidup sehari-hari.
Sesudah makan, Yesus membuka pikiran mereka supaya mengerti Kitab Suci, lalu berkata, 'Kamu adalah saksi dari semuanya ini.' Perjumpaan yang begitu jasmani itu berujung pada perutusan. Dalam bacaan pertama, Petrus meneruskan kesaksian itu di Serambi Salomo, mengajak orang banyak bertobat dan berbalik kepada Allah. Iman Paskah selalu bergerak, dari meja makan ke jalan-jalan, dari perjumpaan ke pewartaan.
Di ruang makan mana Tuhan sedang menemui kita hari ini, dalam hal yang paling biasa yang mudah kita anggap remeh?
Tuhan yang bangkit dan makan bersama murid-murid-Mu, temuilah aku dalam kesederhanaan hidupku, dan jadikan aku saksi-Mu. Amin.