Jumat, 26 April 2030
Sarapan di Pantai
Ada malam-malam ketika kita sudah bekerja keras tetapi pulang dengan tangan kosong. Semalaman menebar jala, dan tidak ada apa-apa. Itulah yang dialami Petrus dan teman-temannya di danau Tiberias. 'Malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.' Kalimat pendek yang dikenal siapa saja yang pernah berusaha sungguh-sungguh dan gagal.
Lalu di pagi hari, ketika hari mulai siang, seseorang berdiri di pantai. Mereka belum mengenali-Nya. Ia bertanya seperti orang biasa, adakah kalian punya lauk? Jawaban mereka jujur dan getir, tidak ada. Lalu orang itu berkata, tebarkanlah jala di sebelah kanan perahu. Perhatikan, para nelayan berpengalaman itu diberi nasihat oleh orang yang tampaknya bukan nelayan. Namun mereka menurut. Dan jala itu penuh, sampai tidak dapat ditarik lagi.
Baru sesudah kelimpahan itu, mata mereka terbuka. Murid yang dikasihi Yesus berkata kepada Petrus, 'Itu Tuhan.' Mereka mengenali-Nya bukan dari wajah dari jauh, melainkan dari cara kerja-Nya, dari kelimpahan yang datang ketika mereka menaati kata-Nya. Sering begitulah kita mengenali Tuhan, bukan dari penampakan yang megah, melainkan dari jejak tangan-Nya dalam hasil yang tak terduga.
Ada satu detail yang menyentuh. Ketika mereka tiba di darat, Yesus sudah menyalakan api arang, dengan ikan dan roti di atasnya. Ia yang bangkit sudah menyiapkan sarapan bagi murid-murid-Nya yang lelah semalaman. Tuhan yang menang atas maut tidak berdiri jauh dan berkuasa. Ia membungkuk di dekat api, memasak, dan berkata, 'Marilah dan sarapanlah.'
Betapa akrabnya Allah kita. Ia peduli bahwa murid-murid-Nya lapar sesudah kerja malam yang sia-sia. Ia menyediakan makanan sebelum menuntut apa-apa. Kasih-Nya selalu mendahului. Ia memberi sarapan sebelum memberi tugas. Nanti, di pantai yang sama, Ia akan bertanya tiga kali kepada Petrus, apakah engkau mengasihi Aku, memulihkan tiga kali penyangkalan dengan tiga kali pengakuan kasih. Tetapi sebelum semua itu, Ia menyuapi dulu. Sebab Tuhan tahu, hati yang lapar dan lelah sukar mendengar panggilan. Ia mengenyangkan lebih dahulu, baru mengutus.
Dalam bacaan pertama, Petrus yang dulu gagal menangkap ikan kini berdiri di depan Mahkamah Agama dengan berani, dan menyebut Yesus sebagai batu yang dibuang tukang bangunan namun menjadi batu penjuru. Orang yang jalanya pernah kosong kini menjadi tiang yang menopang. Tuhan memang gemar memakai mereka yang pernah pulang dengan tangan hampa.
Di pekerjaan mana kita sedang merasa menebar jala semalaman tanpa hasil, dan mungkin Tuhan sedang berdiri di pantai menunggu kita menuruti kata-Nya?
Tuhan yang menyediakan sarapan bagi murid-murid-Mu yang lelah, temuilah aku dalam kerjaku yang terasa sia-sia, dan ajar aku mengenali-Mu dalam kelimpahan yang tak kuduga. Amin.