‹ Semua renungan

Sabtu, 27 April 2030

Tidak Mungkin Diam

Pekan lalu, dalam Malam Paskah, kita berhenti di kubur yang kosong, ketika seorang muda berjubah putih berkata kepada para perempuan, jangan takut, Ia telah bangkit. Injil hari ini melanjutkan kisah Markus itu, dan memperlihatkan sesuatu yang jujur, bahkan agak melegakan. Para murid ternyata tidak langsung percaya.

Ketika Maria Magdalena datang berkata bahwa Yesus hidup, mereka tidak percaya. Ketika dua murid dari Emaus datang bercerita, mereka pun tidak percaya. Markus tidak menutupi kekurangan para rasul. Mereka lamban, ragu, keras hati. Yesus bahkan mencela ketidakpercayaan mereka. Ada penghiburan di sini bagi kita yang imannya juga sering tersendat. Para saksi utama pun pernah meragu.

Tetapi lihatlah apa yang terjadi sesudahnya. Kepada orang-orang yang baru saja dicela karena tidak percaya itu, Yesus justru berkata, 'Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.' Ia tidak menunggu mereka menjadi sempurna dulu. Ia mengutus mereka justru dalam keadaan yang masih rapuh. Tuhan memang gemar memercayakan tugas besar kepada orang-orang kecil yang baru pulih dari keraguan.

Bacaan pertama memperlihatkan hasil dari perutusan itu. Petrus dan Yohanes ditangkap, diancam, dilarang berbicara dalam nama Yesus. Tetapi jawaban mereka menjadi salah satu kalimat paling berani dalam seluruh Kitab Suci, 'Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.'

Perhatikan kalimat itu. Bukan kami tidak mau diam, melainkan kami tidak mungkin diam. Ada perbedaan besar. Ketika seseorang sungguh berjumpa dengan Tuhan yang hidup, membungkam mulutnya sama seperti membendung air yang meluap. Kabar sukacita memang punya daya dorong sendiri. Ia ingin keluar.

Kita kadang berpikir mewartakan iman adalah tugas berat yang dipaksakan dari luar. Petrus dan Yohanes memperlihatkan sebaliknya. Bagi mereka, tidak bersaksi justru yang terasa mustahil. Barangkali pertanyaan bagi kita bukan seberapa berani kita bicara tentang Tuhan, melainkan seberapa nyata perjumpaan kita dengan Dia. Sebab dari perjumpaan yang nyata, kesaksian mengalir dengan sendirinya, seperti orang yang tidak bisa menahan diri menceritakan kabar gembira yang baru saja ia terima. Dan para rasul itu tidak menunggu sampai imannya sempurna baru bersaksi. Mereka bersaksi justru sambil terus bertumbuh, sambil belajar percaya lebih dalam dari hari ke hari.

Adakah sesuatu tentang Tuhan yang sudah kita alami, tetapi selama ini kita simpan rapat karena takut atau malu?

Tuhan, buatlah perjumpaanku dengan-Mu begitu nyata, sampai aku pun tidak mungkin berdiam diri. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →