Minggu, 28 April 2030
Kasih yang Menunjukkan Luka
Minggu lalu, pada pagi Paskah, kita berdiri bersama murid yang dikasihi di depan kubur yang kosong, ketika ia melihat dan percaya. Hari ini, seminggu kemudian, Injil membawa kita ke seorang murid yang tidak semudah itu percaya, yaitu Tomas. Dan hari ini pula Gereja merayakan Minggu Kerahiman Ilahi.
Kata kerahiman menyimpan sesuatu yang indah. Dalam bahasa-bahasa Semit, kata untuk belas kasih berakar pada kata rahim, kandungan ibu. Belas kasih Allah, dengan kata lain, adalah kasih yang seperti rahim seorang ibu terhadap anak yang dikandungnya. Bukan iba yang dingin dari kejauhan, melainkan sayang yang keluar dari isi perut, dari tempat kehidupan itu sendiri.
Kepada Tomaslah kerahiman semacam itu dinyatakan. Ingatlah, ketika Yesus pertama kali datang menampakkan diri, Tomas kebetulan tidak ada. Ia melewatkan perjumpaan itu, dan menolak percaya begitu saja. 'Sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu, sekali-kali aku tidak akan percaya.'
Yang mengharukan, Yesus tidak meninggalkan Tomas dalam keraguannya. Delapan hari kemudian Ia datang lagi. Boleh dibilang Ia datang kembali khusus untuk satu orang yang tertinggal, yang belum percaya. Dan Ia berkata, taruhlah jarimu di sini, ulurkan tanganmu ke lambung-Ku. Yesus menawarkan luka-luka-Nya sendiri sebagai jawaban atas keraguan. Kerahiman tidak menghardik orang yang ragu. Ia menunjukkan luka.
Perhatikan bahwa tubuh Yesus yang bangkit masih menyimpan bekas paku dan bekas tombak. Kebangkitan tidak menghapus luka-luka itu, melainkan mengubahnya menjadi tanda pengenal, menjadi pintu bagi iman Tomas. Luka yang dulu menyakitkan kini menjadi tempat perjumpaan. Bacaan kedua meringkasnya, 'inilah kemenangan yang mengalahkan dunia, iman kita.' Dan iman itu, kita lihat pada Tomas, sering lahir bukan dari orang yang paling kuat, melainkan dari orang yang paling ragu, ketika ia dijumpai oleh kasih yang menunjukkan luka.
Bacaan pertama memperlihatkan buah dari kerahiman yang diterima. Jemaat perdana menjadi sehati dan sejiwa, tidak ada yang menyebut miliknya sebagai kepunyaannya sendiri, dan tidak ada yang berkekurangan. Orang yang sungguh mengalami dirinya dikasihani menjadi murah hati kepada sesama. Maka Kerahiman Ilahi bukan sekadar perayaan yang manis. Ia sebuah undangan. Kita, yang seperti Tomas sering datang terlambat dan mudah ragu, dijumpai oleh kasih yang seperti rahim ibu, dan kasih itu menuntut untuk mengalir keluar.
Kepada siapa hari ini kita dipanggil menunjukkan bukan hardik, melainkan luka dan kasih, seperti yang Tuhan tunjukkan kepada Tomas?
Ya Yesus yang berbelas kasih, seperti Engkau kembali demi satu murid yang ragu, kembalilah selalu kepadaku ketika imanku goyah, dan jadikan aku murah hati seperti Engkau. Amin.