Jumat, 25 Januari 2030
Roboh di Tengah Jalan
Ada perjalanan yang berubah arah di tengah jalan, bukan di titik berangkat. Orang sudah tahu tujuannya, sudah membawa surat, sudah mantap dengan rencananya, lalu satu peristiwa membaliknya sama sekali. Hari ini Gereja merayakan salah satu perubahan arah paling terkenal dalam sejarah: pertobatan Paulus.
Saulus sedang menuju Damsyik dengan tekad bulat. Ia membawa surat resmi untuk menangkap para pengikut Yesus. Ia yakin sedang membela Allah. Justru di puncak keyakinannya yang keliru itulah cahaya dari langit merobohkannya, dan terdengar suara: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?
Perhatikan kalimat itu. Yesus tidak berkata mengapa engkau menganiaya pengikut-Ku, melainkan menganiaya Aku. Ia menyatukan diri dengan orang-orang yang disakiti. Apa yang kita lakukan pada saudara yang paling kecil, kita lakukan pada Kristus sendiri. Saulus baru menyadari bahwa yang selama ini ia kejar adalah Tuhan yang ia sangka ia bela.
Yang menghibur, Allah tidak menunggu Saulus jadi baik dulu. Ia dipanggil justru ketika sedang di jalan yang salah, dengan tangan yang masih penuh niat jahat. Dari penganiaya yang paling galak, ia dijadikan pewarta yang paling jauh menempuh dunia. Tidak ada orang yang terlalu keliru untuk dibalikkan oleh Tuhan.
Ini melegakan bagi kita yang merasa sudah terlalu jauh menyimpang. Pertobatan Paulus membuktikan bahwa arah hidup bisa dibalik kapan saja, bahkan di tengah jalan, bahkan di puncak kesalahan. Adakah satu jalan keliru yang selama ini kita tempuh dengan penuh keyakinan?
Tuhan, robohkanlah keyakinanku yang keliru seperti Engkau merobohkan Saulus. Balikkanlah arah hidupku, dan jadikanlah aku pewarta kasih-Mu. Amin.