Sabtu, 26 Januari 2030
Menangis untuk yang Pernah Memburu
Ketika seseorang yang pernah menyakiti kita akhirnya jatuh, hati manusia biasanya diam-diam lega, bahkan senang. Akhirnya kena juga, batin kita. Maka apa yang dilakukan Daud terhadap Saul benar-benar di luar kebiasaan.
Saul adalah orang yang berkali-kali memburu nyawa Daud, mengejarnya dari gua ke gua. Ketika kabar kematian Saul tiba, tidak seorang pun akan menyalahkan Daud kalau ia bersorak. Tetapi Daud justru mengoyakkan pakaiannya, meratap, menangis, dan berpuasa. Ia bahkan menggubah lagu duka: betapa gugur para pahlawan. Ia menangisi orang yang pernah ingin membunuhnya.
Inilah tanda hati yang sudah bebas dari dendam. Daud tidak lagi mengukur Saul dari kejahatannya kepada dirinya sendiri, melainkan melihatnya sebagai orang yang diurapi Tuhan, sebagai sesama yang layak ditangisi. Kebesaran jiwa bukan diukur dari cara kita memperlakukan sahabat, melainkan dari cara kita memperlakukan orang yang pernah melukai kita.
Dalam Injil, Yesus sendiri disalahmengerti, bahkan oleh keluarga-Nya, yang datang hendak membawa Dia pulang karena mengira Ia tidak waras lagi. Berbuat baik memang kadang membuat kita disalahpahami oleh orang terdekat. Namun kasih tidak berhenti hanya karena tidak dimengerti.
Hari ini kita mengenang Timotius dan Titus, para murid setia Paulus yang meneruskan pelayanan penuh kesulitan. Barangkali kita pun sedang menyimpan nama seseorang yang melukai kita. Sanggupkah kita, seperti Daud, berhenti menyimpan dendam, dan mulai memandangnya sebagai sesama yang juga milik Tuhan?
Tuhan, lembutkanlah hatiku terhadap orang yang pernah menyakitiku. Cabutlah dendamku, dan ajarilah aku memandang mereka seperti Engkau memandang: sebagai sesama yang Kaukasihi. Amin.