‹ Semua renungan

Minggu, 27 Januari 2030

Kata yang Ditaati

Minggu lalu kita mendengar seruan pertama Yesus di Galilea: bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Hari ini kita masuk ke rumah ibadat di Kapernaum, dan melihat apa yang terjadi ketika Ia mulai berbicara. Orang takjub, sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.

Ada beda antara orang yang mengutip banyak sumber dan orang yang kata-katanya sendiri berbobot. Ahli Taurat pandai menyebut pendapat guru ini dan guru itu. Yesus tidak begitu. Kata-Nya keluar langsung dengan kuasa, sampai roh jahat pun tunduk hanya oleh satu perintah: diam, keluarlah dari padanya. Dan roh itu benar-benar keluar.

Bacaan pertama sudah menubuatkan kedatangan pengajar semacam ini. Melalui Musa, Allah berjanji, seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka, dan Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya. Umat Israel dahulu takut mendengar suara Allah yang menggetarkan di gunung Horeb. Maka Allah berjanji akan berbicara lewat seorang manusia, agar firman itu terdengar dekat dan bisa ditanggapi. Dalam Yesus, janji itu genap sepenuhnya.

Yang menarik, kuasa firman itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membebaskan. Perintah Yesus mengusir yang menawan manusia. Firman Allah selalu bekerja begitu, ia datang bukan untuk menindas, melainkan melepaskan belenggu yang mengikat kita. Itu sebabnya orang di rumah ibadat itu takjub, bukan gemetar ketakutan. Mereka merasakan kata yang membebaskan, bukan yang menghakimi.

Paulus dalam bacaan kedua menambahkan satu hal praktis: ia ingin kita hidup tanpa kekuatiran, dengan hati yang tidak terbelah, terpusat pada perkara Tuhan. Sebab hati yang terpecah oleh terlalu banyak kekuatiran sulit mendengar firman yang membebaskan. Yang penuh kecemasan gampang tuli terhadap suara yang menenangkan.

Pertanyaan bagi kita hari ini bukan seberapa banyak ayat yang kita hafal, melainkan seberapa berkuasa firman itu atas hidup kita. Adakah kita membiarkan kata-kata Yesus benar-benar memerintah, sampai roh-roh jahat kecil dalam diri kita, entah amarah, iri, atau ketakutan, ikut tunduk mendengar-Nya?

Firman itu berbobot hanya ketika ditaati. Selama kita hanya mengaguminya seperti orang yang takjub sebentar lalu pulang seperti semula, kita belum sungguh membiarkannya berkuasa. Orang Kapernaum takjub, tetapi tidak semua berubah. Kagum saja mudah, tunduk itu yang menuntut harga. Dan hanya yang tunduk yang sungguh merasakan firman itu membebaskan.

Tuhan, sabda-Mu berkuasa mengusir yang membelenggu. Berbicaralah dengan kuasa atas hidupku hari ini, dan tundukkanlah segala yang menawan hatiku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →