Kamis, 24 Januari 2030
Iri Karena Sebuah Lagu
Retak sebuah hubungan sering bermula dari hal kecil. Sepatah pujian yang salah alamat, satu keberhasilan orang lain yang terlalu ramai dirayakan. Dan mulailah tumbuh rasa yang paling melelahkan untuk dipelihara, yaitu iri.
Kemarin kita menyaksikan Daud mengalahkan Goliat dan pulang sebagai pahlawan. Hari ini kita melihat harga yang harus ia bayar atas sorak-sorai itu. Saul jatuh justru karena sebuah lagu. Perempuan-perempuan menari menyambut kemenangan sambil bernyanyi, Saul mengalahkan beribu-ribu, tetapi Daud berlaksa-laksa. Sejak hari itu, kata Kitab Suci, Saul selalu mendengki Daud. Bukan karena Daud berbuat salah, melainkan karena Daud dipuji lebih tinggi. Iri memang tidak butuh alasan yang masuk akal, ia hanya butuh perbandingan.
Yang menyedihkan, iri lekas berubah menjadi niat membunuh. Saul yang dulu mengasihi Daud kini ingin menyingkirkannya. Untung ada Yonatan, anak Saul sendiri, yang berani berkata baik tentang Daud kepada ayahnya, dan meredakan amarah itu. Di tengah iri yang menyala, ada orang yang memilih menjadi pendamai, bukan penyulut.
Kita hidup di zaman yang membuat perbandingan begitu mudah. Selalu ada orang lain yang tampak lebih dipuji, lebih beruntung, lebih maju. Kalau tidak dijaga, hati kita perlahan berubah menjadi hati Saul, gusar melihat orang lain berlaksa-laksa.
Hari ini kita mengenang Santo Fransiskus dari Sales, yang termasyhur karena kelembutan hatinya. Ia mengajarkan bahwa kasih yang lembut lebih kuat menaklukkan daripada amarah. Adakah nama yang membuat hati kita panas setiap kali disebut? Barangkali di situlah kita dipanggil menjadi Yonatan, bukan Saul.
Tuhan, cabutlah akar iri dari hatiku ketika orang lain dipuji lebih dariku. Jadikanlah aku pendamai seperti Yonatan, bukan penyulut seperti Saul. Amin.