Rabu, 23 Januari 2030
Bukan dengan Baju Zirah
Sebelum maju melawan Goliat, Daud sempat dipakaikan baju zirah dan pedang raja Saul. Perlengkapan terbaik, paling berat, paling mahal. Tetapi Daud tidak terbiasa dengan semua itu, maka ia menanggalkannya. Ia maju hanya dengan tongkat, umban, dan lima batu licin dari dasar sungai.
Kelihatannya konyol. Anak muda melawan raksasa bersenjata lengkap, hanya berbekal ketapel. Tetapi Daud tahu di mana letak kekuatannya. Katanya, engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran itu.
Kita sering merasa harus menghadapi persoalan besar dengan perlengkapan yang megah. Harus punya modal besar, koneksi kuat, gelar tinggi, baru berani melangkah. Padahal kadang justru senjata orang lain itulah yang memberati kita, membuat kita takut bergerak. Daud menang bukan karena ia lebih kuat, melainkan karena ia percaya kekuatannya ada pada Tuhan.
Kemarin kita mendengar Yesus menegaskan bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia. Hari ini Ia membuktikannya, menghadapi Goliat lain, yaitu kekerasan hati orang yang mengintai-Nya di hari Sabat. Ia tidak membalas dengan siasat berbelit. Ia hanya menyuruh orang yang tangannya mati sebelah berdiri di tengah, lalu menyembuhkannya secara terbuka. Kebaikan yang lugu, dilakukan terang-terangan, di hadapan mata yang memusuhi-Nya.
Barangkali Goliat kita hari ini bernama takut, minder, atau merasa tak cukup mampu. Kabar Daud sederhana: kita tidak perlu menunggu punya baju zirah lengkap. Cukup melangkah dengan yang ada di tangan kita, dalam nama Tuhan.
Tuhan, lepaskan aku dari kebiasaan menunggu segala sesuatu sempurna dulu. Ajarilah aku maju dengan yang ada di tanganku, sebab pertempuran ada di tangan-Mu. Amin.