Selasa, 22 Januari 2030
Yang Tinggal di Ladang
Waktu ada tamu penting datang mencari salah satu anak, orang tua biasanya memanggil yang paling membanggakan lebih dulu. Yang paling tinggi, paling tampan, paling berprestasi. Yang bungsu, yang masih menggembala di ladang, kerap dianggap belum perlu dihitung.
Begitulah yang terjadi di rumah Isai. Ketika Samuel datang mencari raja pilihan Tuhan, satu per satu anak lelaki yang gagah dilewatkan di depannya. Samuel sendiri hampir terkecoh oleh Eliab yang tinggi dan rupawan. Tetapi Tuhan menegur: jangan pandang parasnya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.
Yang terpilih justru Daud, si bungsu yang sedang menggembala, yang bahkan tidak diundang ke ruang utama. Allah memang gemar menoleh ke tempat yang manusia lewati. Ia tidak silau oleh yang tampak di permukaan, karena Ia membaca yang tersembunyi di dalam.
Ini menegur sekaligus melegakan. Menegur, karena kita terlalu sering menilai orang dari tampilannya. Melegakan, karena kita yang merasa terlewat dan tak dihitung ternyata tidak luput dari pandangan Allah. Ia melihat hati, dan di situlah nilai kita yang sebenarnya.
Kemarin kita mendengar tentang anggur baru yang menuntut kantong baru. Hari ini, dalam Injil, Yesus kembali membela yang tampak kalah penting: manusia di atas aturan Sabat. Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat. Allah selalu berpihak pada yang diremehkan. Hari ini, siapa orang yang kita lewatkan, padahal Tuhan justru sedang memandang hatinya?
Tuhan, Engkau melihat hati, bukan paras. Ampunilah aku yang menilai dari permukaan, dan yakinkanlah aku bahwa aku pun tak pernah luput dari pandangan-Mu. Amin.