Minggu, 2 Desember 2029
Ketika Semua Tampak Biasa
Yang paling menakutkan dari cerita air bah bukanlah airnya, melainkan betapa biasanya hari-hari sebelum itu. Orang makan dan minum, kawin dan mengawinkan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Justru karena semuanya berjalan normal, tidak seorang pun merasa perlu waspada.
"Mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang." Bukan karena mereka jahat luar biasa, tetapi karena mereka terlalu tenggelam dalam yang biasa. Hidup yang rutin punya daya bius tersendiri. Ia membuat kita percaya bahwa hari esok pasti sama dengan hari ini, dan lusa sama dengan esok.
Ke dalam ketenangan seperti itulah Adven berseru. Paulus mengatakannya dengan lugas: saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Bukan tidur di ranjang. Tidur yang ia maksud adalah keadaan setengah sadar, ketika kita menjalani hari tanpa sungguh hadir, tanpa sungguh menanti apa pun.
Menariknya, Adven tidak menyuruh kita takut. Yesaya melukiskan tujuan penantian kita dengan gambar yang damai: segala bangsa berduyun naik ke gunung Tuhan, pedang ditempa menjadi mata bajak, tombak menjadi pisau pemangkas. Yang kita nanti bukan kehancuran, melainkan hari ketika alat pembunuh diubah menjadi alat penanam. Ketika tangan yang biasa mengangkat senjata belajar memegang cangkul.
Itulah arah kedatangan Tuhan. Bukan untuk menghukum yang sedang makan dan minum, tetapi untuk membangunkan mereka yang lupa bahwa hidup sedang menuju suatu penggenapan. Berjaga berarti hidup seperti orang yang tahu bahwa dunia ini punya tujuan, dan tujuannya baik.
Bagaimana caranya tetap terjaga? Bukan dengan menegangkan diri seperti penjaga malam yang cemas sepanjang waktu. Melainkan dengan sesekali berhenti di tengah kesibukan dan bertanya: untuk apa semua ini, dan ke mana hidupku sedang menuju? Pertanyaan sederhana itu sudah cukup untuk menyalakan kembali kesadaran yang mulai redup, seperti orang yang membasuh muka supaya matanya melek lagi. Adven memberi kita empat pekan justru untuk melatih pertanyaan itu, sampai ia berubah menjadi kebiasaan, dan hidup yang tadinya berjalan otomatis mulai kita jalani dengan sadar.
Empat pekan ke depan kita diajak melatih satu hal yang sederhana namun sulit: hadir, sadar, tidak membiarkan yang rutin membius yang abadi.
Di manakah hidupku sedang berjalan otomatis, tanpa aku sungguh terjaga di dalamnya?
Tuhan, bangunkan aku dari tidur yang tidak kusadari. Ajar aku menanti kedatangan-Mu dengan mata yang terbuka dan hati yang siap. Amin.