Senin, 5 November 2029
Benih yang Belum Kelihatan
Petani menyimpan benih padi di tempat kering. Butirannya kecil, keras, tidak menarik dipandang. Siapa sangka di dalam butir sekecil itu tersimpan hamparan sawah yang menguning? Antara benih dan panen memang ada jarak. Tapi keduanya satu barang yang sama.
Surat Yohanes hari ini berbicara persis seperti petani itu. Sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak. Belum nyata. Bukan belum ada. Seperti benih: sawah itu sudah tersimpan di dalamnya, hanya belum kelihatan.
Ini kabar yang melegakan sekaligus menantang. Melegakan, karena kekudusan bukan prestasi yang harus kita bangun dari nol. Statusnya sudah diberikan lebih dulu: lihatlah, betapa besar kasih yang dikaruniakan Bapa, sehingga kita disebut anak-anak Allah. Menantang, karena benih menuntut pertumbuhan. Benih yang terus disimpan di lumbung tidak akan pernah menjadi apa-apa.
Lalu apa air dan pupuknya? Yesus menjawab dari atas bukit dengan Sabda Bahagia. Miskin di hadapan Allah, itu tanah yang gembur. Lemah lembut, murah hati, membawa damai, itu siraman harian. Lapar dan haus akan kebenaran, itu matahari yang menarik tunas ke atas. Kekudusan tumbuh pelan lewat hal-hal kecil yang diulang-ulang, bukan lewat lompatan ajaib dalam semalam.
Dan panennya? Kitab Wahyu memperlihatkannya: kumpulan besar yang tidak dapat terhitung banyaknya, berjubah putih, memegang daun palem, berseru di hadapan takhta. Semua itu berawal dari butir-butir kecil yang mau ditanam.
Hari ini kita masing-masing sedang di fase benih. Belum kelihatan. Sering merasa bukan siapa-siapa. Tidak apa-apa. Yang penting jangan menolak ditanam. Adakah satu kebiasaan kecil kekudusan yang bisa kusiram hari ini: doa singkat sebelum kerja, kesabaran di rumah, kejujuran di pasar?
Bapa, terima kasih karena Engkau telah menyebutku anak-Mu. Tumbuhkanlah benih itu dalam diriku, sampai kelak aku melihat Engkau dalam keadaan-Mu yang sebenarnya. Amin.