‹ Semua renungan

Jumat, 2 November 2029

Penebusku Hidup

Awal November, pemakaman mendadak ramai. Orang datang membawa sapu lidi, kembang, dan lilin. Rumput di atas pusara dibersihkan, nisan dilap pelan-pelan seperti mengusap wajah orang yang dikasihi. Ada yang menangis. Ada yang hanya duduk lama, tidak berkata apa-apa.

Untuk hari seperti ini Gereja memilih suara Ayub. Orang yang kehilangan segalanya: harta, anak-anak, kesehatan, bahkan rasa hormat teman-temannya. Dari titik paling hancur itu ia berseru: aku tahu, Penebusku hidup. Kalimat itu tidak keluar dari orang yang sedang senang. Ia keluar dari orang yang sedang remuk. Justru karena itu ia bisa dipercaya.

Paulus menambahkan alasannya: pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita. Ketika kita masih berdosa, Kristus mati untuk kita. Kalau di titik terjauh saja kita dikasihi sebegitunya, apalagi mereka yang telah berpulang dalam iman.

Lalu Yesus sendiri berbicara, dan kalimat-Nya terdengar seperti surat jaminan: semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Jangan ada yang hilang. Kubangkitkan pada akhir zaman. Ia mengulanginya dua kali, seakan tahu kita sulit percaya.

Maka mendoakan arwah bukan sekadar urusan perasaan. Itu tindakan iman. Kita menyerahkan nama-nama yang kita cintai ke tangan Dia yang berjanji tidak membuang. Lilin kecil di atas pusara itu sesungguhnya pengakuan iman: kami percaya engkau tidak berakhir di sini.

Hari ini, sebutlah nama mereka satu per satu dalam doa. Nama yang membesarkan kita, nama yang pernah kita sakiti, juga nama yang sudah jarang disebut siapa-siapa.

Tuhan, Penebus yang hidup, terimalah saudara-saudari kami yang telah berpulang. Jangan ada satu pun yang hilang dari tangan-Mu, dan bangkitkanlah mereka pada akhir zaman. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →