‹ Semua renungan

Sabtu, 3 November 2029

Kursi Paling Belakang

Di kondangan kampung, kursi depan selalu jadi soal. Ada tamu yang sengaja datang lebih awal supaya kebagian tempat terhormat, dekat pelaminan, dekat kamera. Panitia pun ikut pusing mengatur siapa duduk di mana.

Yesus rupanya mengamati hal yang sama di rumah orang Farisi. Tamu-tamu berebut tempat kehormatan. Lalu Ia memberi nasihat yang sepintas terdengar seperti siasat sosial: duduklah di tempat paling rendah, siapa tahu tuan rumah memindahkanmu ke depan. Tapi ini bukan trik cari muka. Kalimat penutup-Nya membuka maksud yang sebenarnya: barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.

Kerendahan hati bukan pura-pura menolak sambil diam-diam berharap ditawari. Kerendahan hati adalah merasa cukup dinilai oleh Tuan Rumah, bukan oleh kamera. Orang yang berebut kursi sebenarnya sedang cemas: jangan-jangan aku tidak dianggap. Orang yang tenang di kursi belakang sudah selesai dengan kecemasan itu. Ia tahu harganya tidak ditentukan oleh nomor kursinya.

Hari ini baik kita bertanya: di mana aku biasa berebut? Jabatan, sorotan, pujian, atau sekadar ingin disebut lebih dulu?

Tuhan, bebaskan aku dari cemas ingin dianggap. Cukuplah Engkau yang mengenal aku, dan itu lebih dari cukup. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →