Jumat, 17 Agustus 2029
Penjajah yang Tak Bersenjata
Teks proklamasi yang dibacakan pada 17 Agustus 1945 hanya dua kalimat. Beberapa detik saja untuk membacanya. Tetapi di balik dua kalimat pendek itu ada ratusan tahun penjajahan, jutaan nyawa, dan perjuangan yang belum selesai bahkan setelah bendera berkibar. Mengumumkan kemerdekaan ternyata jauh lebih cepat daripada mengisinya.
Kata proklamasi sendiri berasal dari bahasa Latin proclamare, menyerukan dengan lantang ke segala arah. Ada yang mesti diteriakkan agar semua orang mendengar: kita bukan lagi milik penjajah. Tetapi hari ini Injil menaruh pertanyaan yang lebih senyap: apakah kita sungguh sudah merdeka?
Seorang muda datang kepada Yesus. Hidupnya nyaris sempurna. Muda, kaya, saleh. Semua perintah sudah ia turuti sejak kecil. Negara mana pun akan bangga memiliki warga seperti dia. Tetapi ketika Yesus berkata, 'Juallah segala milikmu, berikanlah kepada orang miskin, lalu ikutlah Aku,' ia pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.
Perhatikan siapa yang pergi. Bukan Yesus yang mengusir dia. Orang muda itu yang berbalik, karena ada sesuatu yang memegangnya lebih kuat daripada kerinduannya sendiri. Ia bebas secara hukum, kaya, terhormat. Tetapi di dalam batinnya ada tuan yang tak bisa ia tinggalkan.
Ada penjajah yang tidak datang dengan kapal dan meriam. Ia tidak menduduki tanah, melainkan hati. Ia bernama kemelekatan. Bisa berupa harta, bisa jabatan, bisa gengsi, bisa dendam yang enggan kita lepas. Dari luar kita merdeka, ikut upacara, menyanyikan Indonesia Raya. Dari dalam kita masih menyetor upeti setiap hari kepada sesuatu yang menawan kita.
Kemerdekaan yang diproklamasikan para pendiri bangsa adalah anugerah besar yang wajib kita syukuri dan jaga. Tetapi Injil mengingatkan bahwa masih ada satu tanah lagi yang perlu dimerdekakan, yang tidak bisa direbut oleh pahlawan mana pun selain oleh kerelaan kita sendiri melepaskan.
Orang muda itu mengira ia kehilangan banyak jika melepas hartanya. Ia tidak sadar, justru dengan menggenggam, ia sedang dijajah.
Di hari kemerdekaan ini, adakah satu hal yang sudah lama menjajah hatiku, yang belum berani kuproklamasikan lepas?
Tuhan, kami bersyukur untuk kemerdekaan bangsa ini dan bagi mereka yang menebusnya dengan darah. Merdekakanlah kami sekali lagi, kali ini dari dalam, dari segala yang kami genggam terlalu erat sampai tak bebas mengikuti-Mu. Jadikan kami bangsa yang merdeka lahir dan batin. Amin.