‹ Semua renungan

Rabu, 27 Juni 2029

Menghitung Bintang

Waktu listrik padam semalam suntuk, kampung mendadak gelap dan langit mendadak ramai. Bintang yang selama ini kalah oleh lampu jalan bermunculan tak terhitung. Anak-anak mencoba menghitung dan menyerah di angka seratus.

Ke bawah langit semacam itulah Abram dibawa keluar dari kemahnya. Ia sedang berkeluh: Engkau tidak memberiku keturunan; hartaku akan jatuh ke tangan hambaku. Keluhan yang masuk akal untuk lelaki tua tanpa anak. Allah tidak menjawab dengan ceramah. Ia menjawab dengan pemandangan: coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya. Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.

Lalu datanglah ayat yang disebut-sebut Paulus berabad-abad kemudian: percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Abram belum menerima apa-apa. Belum ada anak, belum ada tanah. Yang ada baru langit penuh bintang dan sebuah janji. Iman memang bukan menghitung yang sudah di tangan, melainkan berani mempercayai yang baru dijanjikan.

Kemarin Yesus berbicara tentang pintu sempit; hari ini tentang pohon yang dikenal dari buahnya. Buah iman Abram tumbuh dari malam berbintang itu: keberanian menunggu tanpa menjadi pahit.

Tuhan, ketika hidupku terasa kosong, bawalah aku keluar dari kemah keluhanku, dan tunjukkanlah bintang-bintang janji-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →