Minggu, 24 Juni 2029
Namanya Yohanes
Di keluarga besar, nama adalah warisan. Nama kakek dipasangkan kepada cucu, nama bapak diteruskan kepada anak. Maka ketika sebuah keluarga memberi anaknya nama yang sama sekali baru, para tetangga pasti bertanya: itu nama dari mana?
Persis itulah keributan kecil dalam Injil hari ini. Bayi Elisabet hendak dinamai Zakharia menurut nama bapanya, sebagaimana lazimnya. Tiba-tiba ibunya menolak: jangan, ia harus dinamai Yohanes. Sanak saudara protes: tidak ada di antara keluargamu yang bernama demikian. Lalu Zakharia yang bisu meminta batu tulis dan menulis: namanya adalah Yohanes. Seketika itu juga mulutnya terbuka dan lidahnya terlepas.
Mengapa nama itu penting sekali? Yohanes berasal dari bahasa Ibrani, Yohanan, artinya kurang lebih: Allah bermurah hati. Anak itu tidak boleh memakai nama warisan, sebab tugasnya memang bukan meneruskan masa lalu. Ia membuka babak baru: menyerukan pertobatan dan menunjuk kepada Sang Mesias. Allah sedang memulai sesuatu yang belum pernah ada, dan tanda pertamanya sederhana sekali: sebuah nama yang keluar dari kebiasaan keluarga.
Bacaan pertama dari Yesaya memperluas cakrawalanya: TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Panggilan itu bukan monopoli para nabi. Setiap anak yang lahir, termasuk kita, sudah lebih dulu dikenal dan dinamai Allah sebelum orang tuanya berunding soal nama. Tidak ada manusia yang lahir sebagai salinan. Masing-masing diberi tugas yang belum pernah diberikan kepada siapa pun.
Namun Yohanes juga mengajarkan sisi lain dari panggilan: tahu batas. Dalam bacaan kedua, Paulus mengutip pengakuannya: aku bukanlah Dia yang kamu sangka; membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak. Yohanes besar justru karena tidak pernah merebut peran yang bukan miliknya. Ia lampu penunjuk, bukan tujuan. Betapa jarangnya orang sebesar itu yang sanggup berkata: aku bukan pusatnya.
Orang-orang di pegunungan Yudea bertanya-tanya: menjadi apakah anak ini nanti? Pertanyaan yang sama pantas kita ajukan untuk diri kita dan anak-anak kita. Bukan menjadi apa menurut ukuran pasar, melainkan menjadi apa menurut Dia yang menyebut nama kita sejak dari kandungan.
Tuhan, Engkau memanggil namaku sebelum aku bisa menjawab. Seperti Yohanes, jadikanlah aku penunjuk jalan kepada-Mu, bukan kepada diriku sendiri. Amin.