Senin, 25 Juni 2029
Berangkat Tanpa Peta
Setiap perantau mengenal detik yang satu ini: kaki sudah di atas bus, kampung halaman bergerak menjauh di kaca jendela, dan di depan hanya ada alamat yang belum pernah dilihat. Berangkat selalu berarti melepaskan yang pasti demi yang dijanjikan.
Abram mengalaminya pada umur tujuh puluh lima tahun. Usia ketika orang lain sudah menimang cucu dan menetap, ia justru mendengar perintah: pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu, dari rumah bapamu, ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Perhatikan kata akan. Negerinya belum ditunjukkan. Yang diberikan baru janji, bukan peta. Dan ayat berikutnya hanya berkata pendek: lalu pergilah Abram.
Dari ketaatan tanpa peta itulah mengalir berkat bagi semua kaum di muka bumi. Seandainya Abram menunggu kepastian lengkap, kita tidak sedang membaca kisahnya hari ini.
Santo Aloisius Gonzaga melakukan keberangkatan serupa: melepaskan hak warisnya sebagai pangeran demi jalan yang di mata dunia tidak masuk akal. Iman memang selalu punya unsur berangkat.
Kita tidak selalu diminta pindah tempat. Kadang yang diminta lebih sulit: meninggalkan kebiasaan lama, zona aman, atau luka yang sudah kita huni bertahun-tahun. Ke mana Tuhan sedang menyuruh kita berangkat?
Tuhan, aku sering minta peta sebelum melangkah. Ajarilah aku berjalan cukup dengan janji-Mu. Amin.