Jumat, 8 Juni 2029
Suara yang Pelan
Perhatikanlah cara orang membangunkan anak kecil yang tertidur. Ibu yang baik tidak membentak. Ia mendekat, menepuk pelan, memanggil nama dengan suara yang nyaris bisik. Yang keras membangunkan dengan kaget. Yang pelan membangunkan dengan selamat.
Elia sedang tertidur di dalam guanya, bukan tidur badan melainkan tidur harapan. Nabi besar itu baru saja menang melawan ratusan nabi Baal, lalu diancam bunuh dan lari ketakutan. Ia merasa gagal total dan tinggal seorang diri. Kepadanya Allah berjanji akan lewat. Maka datanglah angin besar yang membelah gunung. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Datang gempa. Tidak ada TUHAN dalam gempa. Datang api. Tidak juga. Sesudah semuanya, terdengar bunyi angin sepoi-sepoi basa. Dan Elia menyelubungi mukanya, sebab ia tahu: inilah Dia.
Pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, bacaan ini seperti membuka tirai ke dalam dada Allah. Kita sering membayangkan kuasa Allah dengan gambar angin, gempa, dan api. Allah sendiri rupanya lebih suka memperkenalkan diri lewat yang pelan. Hati Yesus tidak pernah digambarkan-Nya sebagai hati yang menggelegar. Belajarlah pada-Ku, kata-Nya di tempat lain, karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Kekuatan yang paling besar di dunia ini ternyata tidak berisik.
Menarik bahwa suara pelan itu tidak datang untuk memanjakan Elia. Sesudah menyapa, Allah memberinya tugas baru: pergilah, kembalilah ke jalanmu, urapilah raja dan penggantimu. Kelembutan hati Allah bukan kelembekan. Ia menyembuhkan orang yang patah justru dengan mempercayainya lagi.
Injil hari ini pun berbicara tentang hati. Yesus memindahkan urusan dosa dari tangan ke hati: zinah tidak mulai di tempat tidur, melainkan di dalam pandangan dan keinginan yang dipelihara. Kalau hati Allah adalah pusat kasih-Nya, hati manusia adalah pusat pertempurannya. Yang satu memancarkan, yang lain harus dijaga.
Maka pertanyaan hari raya ini sederhana. Di antara sekian suara yang masuk ke hati kita setiap hari, suara keras yang menuntut dan suara pelan yang mengasihi, mana yang kita beri kursi paling depan? Allah masih berbicara seperti kepada Elia. Pelan. Dan yang pelan hanya terdengar oleh yang mau hening.
Ya Yesus yang berhati lemah lembut, jadikanlah hatiku serupa dengan hati-Mu: teduh untuk didiami, hening untuk mendengar-Mu, dan setia untuk diutus kembali. Amin.