‹ Semua renungan

Kamis, 10 Mei 2029

Saksi, Bukan Penonton

Ketika seorang kepala keluarga harus pergi jauh dan lama, ada saat hening yang canggung sesudah ia benar-benar berangkat. Pintu ditutup, kendaraan menjauh, dan yang tinggal saling berpandangan. Lalu selalu ada satu pertanyaan yang mau tak mau muncul: sekarang, siapa mengerjakan apa?

Hari ini Tuhan naik ke surga. Para murid berdiri menatap langit, dan mudah membayangkan mereka ingin terus begitu, terpaku pada tempat Ia menghilang. Tetapi bacaan pertama memperlihatkan hal yang mengejutkan. Tidak lama sesudah itu Petrus berdiri di tengah kira-kira seratus dua puluh orang dan mengajak mereka mengurus satu hal yang tertunda: mengisi tempat kosong yang ditinggalkan Yudas. Kenaikan tidak membuat mereka melamun. Ia justru menggerakkan mereka bekerja.

Perhatikan syarat yang diajukan Petrus untuk pengganti itu. Ia haruslah orang yang selalu bersama mereka sejak baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat, supaya bisa menjadi saksi kebangkitan-Nya. Bukan orang paling pandai atau paling berpengaruh, melainkan orang yang sungguh hadir dari awal sampai akhir. Saksi lahir dari kehadiran, bukan dari gelar.

Lalu mereka mengusulkan dua nama, berdoa, dan membuang undi. Kita mungkin heran melihat perkara sepenting itu diputuskan dengan undi. Tetapi maknanya jelas: mereka tidak mau menonjolkan pilihan sendiri, mereka menyerahkan hasilnya kepada Tuhan yang mengenal hati semua orang. Matias terpilih bukan karena kampanye, melainkan karena dipercayakan.

Injil hari ini melengkapi gambaran itu. Yesus menyebut para murid bukan lagi hamba, melainkan sahabat, dan berkata: bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah. Kenaikan bukan akhir perjumpaan, melainkan awal perutusan. Ia naik justru supaya pekerjaan-Nya kini dilanjutkan lewat tangan sahabat-sahabat-Nya.

Dan menjadi saksi tidak menuntut panggung besar. Matias tidak dikenal karena pidato yang menggemparkan, namanya bahkan hanya muncul sekali dalam Kitab Suci. Ia menjadi saksi cukup dengan hadir setia dari awal sampai akhir, lalu meneruskan apa yang ia lihat dan dengar. Kesaksian kita pun begitu: lebih sering berupa kesetiaan kecil yang tekun daripada perbuatan besar yang riuh.

Maka Kenaikan sebenarnya bukan hari Tuhan meninggalkan kita, melainkan hari Ia memercayakan kelanjutan cerita kepada kita. Tempat kosong itu tidak dibiarkan menganga. Ia diisi, supaya kesaksian tidak putus. Hari ini pertanyaan yang sama sampai kepada kita: kita mau jadi penonton yang menatap langit, atau saksi yang melanjutkan pekerjaan?

Tuhan, setelah Engkau naik, jangan biarkan aku hanya menengadah. Jadikanlah aku saksi yang hadir dan setia, yang meneruskan pekerjaan-Mu di bumi. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →