Jumat, 11 Mei 2029
Jangan Diam
Ada rasa takut khusus yang membuat orang memilih diam. Bukan takut dipukul, melainkan takut dianggap aneh sendirian. Di ruang rapat, di obrolan warung, di antara teman yang berpikir lain, kita sering menahan suara bukan karena tak punya pendapat, melainkan karena merasa hanya kita yang berdiri di sisi ini.
Paulus rupanya sedang diliputi takut serupa di Korintus, kota besar yang keras. Maka Tuhan datang dalam penglihatan malam dengan kata-kata yang tegas dan lembut sekaligus: jangan takut, teruslah memberitakan firman dan jangan diam. Sebab Aku menyertai engkau, dan banyak umat-Ku di kota ini. Ada alasan untuk bersuara: Paulus tidak sesendirian yang ia kira. Di kota yang tampak asing itu tersebar orang-orang yang diam-diam milik Tuhan, yang belum ia jumpai.
Kalimat itu menguatkan Paulus untuk tinggal satu setengah tahun lamanya mengajar di sana. Ketakutan tidak lenyap seketika, tetapi ia tidak lagi membungkam diri.
Kita pun sering merasa sebagai suara tunggal yang ganjil. Padahal boleh jadi di sekeliling kita ada banyak orang yang menanti satu orang berani bersuara lebih dulu, supaya mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Diam kita kadang membuat sesama yang sepaham ikut terkunci dalam diam.
Tuhan, ketika takut membuatku bungkam, ingatkanlah bahwa aku tidak sendiri, dan berilah aku keberanian untuk tidak diam. Amin.