Minggu, 6 Mei 2029
Bukan Yatim Piatu
Kata yatim piatu selalu menusuk. Ia menggambarkan anak yang bangun pagi tanpa ada yang menyiapkan sarapan, pulang sekolah ke rumah yang sunyi, menghadapi dunia tanpa punggung tempat bersandar. Bukan sekadar kehilangan orang tua, melainkan kehilangan tempat berlindung yang paling dasar.
Maka pilihan kata Yesus di ruang perjamuan itu terasa sangat lembut. Menjelang Ia pergi, murid-murid diliputi cemas seperti anak yang akan ditinggal. Yesus berkata, Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Ia tidak menghibur dengan mengatakan bahwa mereka sudah cukup dewasa dan kuat. Ia berjanji mengirim seorang Penolong yang lain, Roh Kebenaran, yang menyertai selama-lamanya dan diam di dalam mereka.
Perhatikan letak Sang Penolong. Bukan di samping sebagai tamu, melainkan di dalam sebagai penghuni tetap. Inilah beda utama iman kita: Allah tidak menemani dari kejauhan, Ia tinggal di dalam. Yang kemarin diberikan kepada orang-orang Samaria lewat penumpangan tangan Petrus dan Yohanes, kini juga kita terima sejak baptis dan penguatan.
Bacaan pertama memperlihatkan buah kehadiran itu. Filipus memberitakan Kristus di Samaria, daerah yang biasanya dijauhi orang Yahudi, dan kota itu dipenuhi sukacita. Roh Kudus meruntuhkan tembok yang lama memisahkan. Ia tidak hanya menghibur ke dalam, tetapi mendorong keluar, menyeberangi batas yang dulu tak berani dilewati.
Lalu Petrus, dalam bacaan kedua, memberi kita satu tugas yang lahir dari kehadiran Roh itu: siap sedia memberi pertanggungan jawab kepada setiap orang yang menanyakan pengharapan yang ada padamu. Menarik bahwa ia menambahkan syarat gaya: dengan lemah lembut dan hormat. Kesaksian iman bukan soal menang berdebat atau meninggikan suara. Orang beriman tidak perlu galak, sebab ia tidak sedang membela dirinya sendiri, melainkan membagikan pengharapan yang menghidupinya.
Tiga bacaan hari ini bertemu pada satu titik: kita tidak ditinggal sendirian. Ada Penolong di dalam, ada sukacita yang menyeberangi tembok, ada pengharapan yang layak diceritakan dengan lembut. Di tengah bulan Maria ini, baik kita ingat bahwa Bunda pun menyimpan janji itu sampai genap pada Pentakosta.
Pertanyaannya sederhana. Kalau seseorang bertanya mengapa kita masih tenang di tengah kesulitan, punyakah kita jawaban? Dan kalau punya, sanggupkah kita menyampaikannya tanpa nada tinggi, hanya dengan kelembutan orang yang tahu ia tidak sendirian?
Tuhan, terima kasih Engkau tidak meninggalkan aku yatim piatu. Tinggallah di dalam aku dengan Roh-Mu, dan buatlah aku sanggup menceritakan pengharapanku dengan lembut dan hormat. Amin.