‹ Semua renungan

Senin, 30 April 2029

Kami Ini Manusia Biasa

Kemarin kita mendengar Yesus menjanjikan bahwa orang percaya akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar. Hari ini Paulus mengalaminya di Listra: seorang lumpuh sejak lahir berdiri tegak atas perkataannya. Tetapi ujian yang menyusul ternyata bukan kegagalan, melainkan keberhasilan.

Orang banyak berteriak bahwa dewa-dewa telah turun dalam rupa manusia. Barnabas disebut Zeus, Paulus disebut Hermes. Imam kuil sudah membawa lembu jantan dan karangan bunga untuk mempersembahkan kurban. Karier macam apa yang lebih gemilang dari itu: disembah hidup-hidup? Tetapi Paulus dan Barnabas mengoyakkan pakaian mereka dan terjun ke tengah orang banyak sambil berseru: hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu.

Batu-batu yang nanti melukai Paulus tidak pernah merusak imannya. Pujian hampir saja. Ancaman membuat orang bertahan; sanjungan membuat orang lupa diri. Orang Jawa merumuskannya pendek: aja dumeh, jangan mentang-mentang. Jangan mentang-mentang dipakai Tuhan, lalu merasa diri sumber kuasa-Nya.

Dalam Injil, Yesus menunjukkan letak kemuliaan yang sebenarnya: jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku, dan Kami akan datang dan diam bersama-sama dengan dia. Kemuliaan manusia bukan disembah orang, melainkan didiami Allah. Yang pertama menggelembungkan, yang kedua memenuhi.

Kalau hari-hari ini ada pujian yang datang atas kerja dan pelayanan kita, terimalah dengan syukur, lalu cepat-cepat kembalikan kepada Pemiliknya. Kami ini manusia biasa. Kalimat itu bukan merendahkan diri; itu kalimat penyelamat.

Tuhan, jagalah hatiku pada saat dipuji, agar aku tetap tahu diri sebagai manusia biasa yang Engkau diami. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →