Selasa, 1 Mei 2029
Dikelilingi, Lalu Bangkit
Ada pemandangan yang menegangkan di lapangan kampung: seorang pemain tersungkur, tidak bergerak, lalu kawan-kawannya berlari mengerumuninya. Kita menahan napas. Ketika ia perlahan bangkit, seluruh lapangan seakan ikut bernapas lagi.
Kemarin kita mendengar orang banyak nyaris mempersembahkan korban kepada Paulus, menyangkanya dewa. Hari ini angin berbalik. Orang yang sama datang melempari dia dengan batu, sampai ia disangka mati dan diseret ke luar kota. Tetapi Lukas menuliskan kalimat yang halus: ketika murid-murid berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia. Ia tidak bangkit sendirian di padang kosong, melainkan di tengah lingkaran orang yang menungguinya. Dan keesokan harinya ia berjalan lagi, bahkan kembali ke kota-kota yang mengusirnya, untuk menguatkan hati para murid.
Pesan yang ia bawa tidak manis: untuk masuk Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Ia tidak menjanjikan jalan tanpa batu. Ia hanya membuktikan bahwa batu bukanlah akhir cerita.
Hari ini Gereja mengenang Santo Yusuf sang pekerja, yang tahu betul lelah tangan yang bekerja tiap hari. Barangkali kekudusan lebih sering berupa bangkit sekali lagi esok pagi, bukan tidak pernah jatuh.
Tuhan, ketika aku tersungkur, kelilingilah aku dengan orang-orang-Mu, dan berilah aku kekuatan untuk bangkit dan melangkah lagi esok hari. Amin.