Minggu, 29 April 2029
Rantai Ember
Ketika kebakaran melanda kampung padat, mobil pemadam sering tidak bisa masuk gang. Maka warga membentuk barisan panjang dari sumur sampai titik api, dan ember dioper dari tangan ke tangan. Tidak ada pahlawan tunggal dalam rantai ember. Tetapi kalau satu orang saja melamun dan tidak meneruskan, air berhenti di tengah jalan dan api menang.
Paulus membuka bacaan pertama dengan bahasa rantai ember: aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu; sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri. Kuterima, kusampaikan. Ia lalu menyebut mata rantainya satu per satu: Kristus mati dan bangkit, menampakkan diri kepada Kefas, kepada kedua belas murid, kepada lima ratus saudara sekaligus, kepada Yakobus, kepada semua rasul. Dan yang paling akhir, kepadaku, katanya, seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Paulus takjub bahwa ember itu sampai juga ke tangannya, tangan yang dulu justru memusuhi barisan.
Iman kita pun tiba lewat rantai yang sama. Dari para saksi mata, melalui para martir dan misionaris, melintasi dua ribu tahun dan ribuan kilometer, lalu melewati tangan-tangan yang dekat: kakek nenek yang mengajak berdoa, orang tua yang membawa kita dibaptis, guru agama, katekis kampung. Tidak ada di antara kita yang menemukan iman sendirian. Semua menerima dari tangan orang lain.
Dalam Injil, Yesus menjanjikan hal yang mengejutkan: barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar. Bagaimana mungkin? Justru lewat rantai itu. Yesus berkarya tiga tahun di satu negeri kecil; para murid-Nya meneruskan sampai ke ujung-ujung bumi. Pekerjaan yang lebih besar adalah pekerjaan yang diteruskan.
Maka pertanyaan Minggu ini datang tepat kepada kita yang berdiri di barisan hari ini: dari siapa aku menerima, dan kepada siapa aku meneruskan? Anak-anak kita, orang muda di sekitar kita, sedang menunggu operan. Jangan sampai rantai dua ribu tahun itu terputus persis di tangan kita.
Tuhan, terima kasih untuk semua tangan yang meneruskan iman sampai kepadaku. Jadikan tanganku mata rantai yang setia, bukan yang memutuskan. Amin.