Selasa, 17 April 2029
Jubah di Kaki Seorang Muda
Di tengah hujan batu itu, Lukas menyisipkan satu detail kecil yang mudah terlewat: para saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus. Seorang penjaga jubah. Penonton yang setuju. Siapa sangka catatan sepintas itu kelak menjadi salah satu kisah terbesar dalam sejarah Gereja.
Stefanus mati dengan dua doa di bibirnya, dan keduanya meniru Gurunya di salib: terimalah rohku, dan jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka. Doa yang kedua itu, hari itu, tampak sia-sia. Batu-batu tetap melayang. Penganiayaan justru meledak. Tetapi doa untuk musuh rupanya tidak pernah hangus. Bertahun-tahun kemudian, si penjaga jubah itu rebah di jalan menuju Damsyik, dan bangkit sebagai Paulus. Orang-orang kudus perdana suka berkata, Gereja mendapatkan Paulus lewat doa Stefanus.
Orang Jawa punya ungkapan pendek: urip iku urup, hidup itu nyala, ada untuk menerangi sekitar. Nyala Stefanus tampak padam sore itu. Nyatanya tidak. Nyalanya pindah, menyulut obor yang kelak menerangi bangsa-bangsa.
Kita pun punya orang-orang yang menyakiti kita, dan doa untuk mereka terasa berat sekaligus percuma. Kisah hari ini berkata lain. Tidak ada doa pengampunan yang jatuh ke tanah. Ia bekerja diam-diam, kadang baru kelihatan hasilnya bertahun-tahun kemudian, pada orang yang paling tidak kita sangka.
Tuhan Yesus, seperti Stefanus aku mau berdoa bagi orang yang melukaiku. Simpanlah doaku, dan nyalakanlah ia pada waktu-Mu. Amin.