Senin, 9 April 2029
Langit Menunggu Jawaban
Ada yang unik dengan hari raya hari ini. Kabar Sukacita biasanya dirayakan tanggal dua puluh lima Maret, sembilan bulan persis sebelum Natal. Tahun ini tanggal itu jatuh di tengah Pekan Suci, maka perayaannya digeser ke hari ini. Hasilnya terasa aneh sekaligus indah: kita merayakan awal kehidupan Yesus dalam rahim Maria justru dalam terang kebangkitan-Nya. Benih dan buah dipandang dalam satu tarikan napas.
Bacaan pertama menampilkan Raja Ahas yang ditawari tanda oleh Allah sendiri: mintalah, sedalam dunia orang mati atau setinggi langit. Ahas menolak dengan alasan yang kedengarannya saleh, aku tidak mau mencobai Tuhan. Padahal ia sudah punya rencana sendiri dan tidak ingin diganggu. Ada penolakan yang berbaju kesalehan. Terhadap raja yang menutup diri itu, Allah tetap memberi tanda: seorang perempuan muda mengandung dan melahirkan anak laki-laki, Imanuel, Allah menyertai kita.
Berabad-abad kemudian tanda itu menjadi nyata di sebuah kota kecil bernama Nazaret. Gabriel menyampaikan rencana Allah kepada seorang gadis. Maria tidak menolak seperti Ahas, tetapi juga tidak asal mengiyakan. Ia bertanya jujur: bagaimana hal itu mungkin terjadi? Iman yang sehat memang boleh bertanya. Yang membedakan pertanyaan Maria dari penolakan Ahas adalah arah hatinya: Ahas bertanya untuk mengelak, Maria bertanya untuk bisa menyerahkan diri dengan sadar.
Lalu tibalah saat yang paling menegangkan dalam sejarah keselamatan. Malaikat sudah selesai berbicara. Langit seakan menahan napas, menunggu jawaban seorang gadis desa. Allah yang mahakuasa tidak memaksa rahim seorang perempuan. Ia menunggu. Dan Maria menjawab: sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu. Surat Ibrani memperdengarkan gema jawaban itu dari pihak sang Anak: sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.
Sampai hari ini cara Allah tidak berubah. Ia merancang, Ia menawarkan, lalu Ia menunggu jawaban kita. Ia bisa saja memaksa, tetapi kasih tidak bekerja dengan paksaan. Berapa banyak rencana baik Allah yang masih menggantung, hanya karena kita belum menjawab?
Ya Allah, seperti Maria aku ingin menjawab: jadilah padaku menurut kehendak-Mu. Jangan biarkan rencana-Mu menunggu terlalu lama di pintuku. Amin.