Rabu, 21 Maret 2029
Satu Kata yang Membuka Sejarah
Ada kabar yang datang begitu saja di hari biasa, dan sesudahnya hidup tidak pernah sama lagi. Sebuah panggilan di tengah malam. Sepucuk hasil pemeriksaan dokter. Satu ketukan di pintu. Kita tidak pernah memilih hari-hari itu, ia datang sendiri, dan kita hanya diminta menjawab.
Maria, seorang gadis dari kampung kecil bernama Nazaret, mengalami kabar semacam itu dalam ukuran yang jauh lebih besar. Malaikat datang, dan seluruh rencana hidupnya yang sederhana, menikah dengan Yusuf lalu hidup tenang, tiba-tiba dibuka lebar oleh sebuah tawaran yang mustahil dimengerti. "Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki."
Maria tidak langsung berkata ya secara buta. Ia bertanya, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi?" Iman sejati boleh bertanya. Yang membedakan Maria bukan bahwa ia tidak bingung, melainkan bahwa di tengah kebingungannya ia tetap percaya.
Perhatikan juga tempatnya. Nazaret hanyalah kampung kecil yang tak diperhitungkan, sampai ada yang menyindir, "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Tetapi ke kampung sekecil itulah Allah mengirim malaikat-Nya. Ia tidak mencari istana atau kota besar. Ia mencari hati yang bersedia. Sering kali karya terbesar Allah justru dimulai di tempat yang paling luput dari perhatian orang.
Bandingkan dengan bacaan pertama. Ratusan tahun sebelumnya, Raja Ahas juga ditawari tanda oleh Tuhan. Tetapi Ahas menolak dengan dalih yang kedengaran saleh, "Aku tidak mau mencobai Tuhan." Sesungguhnya ia hanya tidak mau melibatkan Tuhan dalam urusannya. Ahas menutup pintu, Maria membukanya. Dan justru lewat Maria, tanda Imanuel itu, "Allah menyertai kita," akhirnya digenapi.
Surat Ibrani memberi kita kalimat batin Sang Anak ketika masuk ke dunia, "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Ternyata "ya" Maria menggemakan "ya" Kristus sendiri. Ibu dan Anak menjawab dengan kata yang sama.
Betapa banyak yang bergantung pada satu kata sederhana dari seorang perawan muda. "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Seluruh keselamatan seakan menunggu di ambang jawaban itu. Ia bisa saja berkata tidak, seperti Ahas. Ia berkata jadilah.
Tuhan masih mengetuk di hari-hari biasa kita, sering lewat hal yang tidak kita rencanakan. Pertanyaannya bukan apakah kita mengerti seluruhnya, melainkan apakah kita berani menjawab: jadilah.
Tuhan, seperti Maria, ajarilah aku berkata ya bahkan pada yang belum kupahami. Jadilah padaku menurut kehendak-Mu. Amin.