Selasa, 20 Maret 2029
Memandang yang Melukai
Ada sesuatu yang berlawanan dengan naluri dalam perintah Tuhan kepada Musa. Bangsa Israel dipagut ular berbisa dan banyak yang mati. Lalu Tuhan menyuruh Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya di atas tiang. Siapa yang terpagut lalu memandang ular itu, akan tetap hidup.
Aneh, bukan? Orang yang dipagut ular justru disuruh memandang gambar ular, benda yang paling ingin ia lupakan. Bukan menoleh ke arah lain, melainkan menatap tepat pada bentuk yang melukainya, dan dari situlah kesembuhan datang.
Yesus mengambil gambar ini untuk diri-Nya sendiri. "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia." Salib pun begitu. Ia adalah alat penyiksaan, tanda kutuk, hal yang paling ingin dijauhi. Tetapi justru ke situlah mata kita diarahkan untuk sembuh. Kita dipanggil memandang luka, bukan berpaling darinya.
Ini pelajaran juga bagi cara kita menghadapi dosa dan luka sendiri. Kita cenderung menyembunyikannya, menutupnya, berpura-pura tidak ada. Padahal penyembuhan justru mulai ketika kita berani menatap tepat pada yang melukai kita, dan membawanya ke bawah salib.
Adakah luka yang selama ini kupalingkan, yang sebenarnya diminta untuk kupandang di hadapan salib?
Tuhan, ajari aku memandang salib-Mu tanpa berpaling. Di sanalah bisa yang mematikan diubah menjadi kesembuhan. Amin.